Wow, Indonesia Peringkat Dua Perilaku BABS di Dunia

0
76

BOGOR – Sekitar 55 juta dari 200 juta penduduk di Indonesia, termasuk diantaranya anak-anak, masih memiliki perilaku buang air besar sembarangan (BABS). Dari jumlah itu, 2/3 atau 37 juta diantaranya merupakan masyarakat pedesaan.

Walhasil, Indonesia menjadi negara nomor dua tertinggi di dunia dengan perilaku BABS.

Tim Pengabdian Masyarakat FKM UI Depok, Epi Ria Kristina Sinaga menjelaskan, berat tinja rata-rata yang dikeluarkan seorang dewasa di Asia ± 500 gram per hari (1/2 kilogram). Setiap gram tinja mengandung ± Salmonella sebanyak 106, Vibrio sebanyak 104, Virus Poliomyelitis sebanyak 106, dan Amoeba sebanyak 104.

Kemudian pada tinja yang segar terkandung 5 juta sampai dengan 500 juta E. coli per gramnya.

Artinya, jika seseorang mempunyai kebiasaan BABS satu kali dalam sehari dengan berat 500 gram ke lingkungan, maka pada saat yang bersamaan turut terbuang bersamanya 2,5 miliar sampai dengan 250 milyar E. coli, 500 juta Salmonella, 500 juta Virus Poliomyelitis, 5 juta Vibrio, 5 juta Amoeba.

“Dan ketika 55 juta penduduk melakukannya secara bersamaan, maka beban resiko pencemaran yang diterima lingkungan (baik sungai atau kebun) adalah sebesar 55 juta kali lipatnya per hari,” ujarnya saat menyampaikan materi pada acara sosialisasi kegiatan pengabdian masyarakat FKM UI Depok bertajuk “Setop Buang Air Besar Sembarangan” di Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang, Sabtu (17/11/2018).

Selain itu, tinja yang dibuang di alam terbuka juga dapat menimbulkan bau.

Hal tersebut berpotensi mencemari tanah dan air, menjadi perindukan lalat, mengkontaminasi makanan, dan tinja yang kering dapat menjadi butir-butir debu halus yang melayang di udara, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit seperti pneumonia (radang paru-paru) pada balita.

Kondisi ini berisiko menyebabkan kematian dan diare pada anak yang berdampak pada kekurangan gizi, anak menjadi lebih rentan sakit, terhambatnya asupan gizi sehingga anak berisiko mengalami stanting.

“Lingkungan yang sehat, merupakan salah satu unsur terpenting untuk mendukung tubuh yang sehat. Nah, upaya pengendalian penularan penyakit yang paling efektif adalah dengan memutuskan mata rantai penularan langsung pada sumbernya yaitu setop BAB sembarangan,” papar dia dalam tulisan yang dikirim ke pakuanraya.com, Minggu (18/11/2018).

Dia pun menyebut perlunya sosialisasi dilakukan, untuk menginformasikan seluas-luasnya kepada masyarakat.

Dengan harapan, jika masyarakat sebelumnya tidak mengetahui kenapa BABS dilarang atau tidak boleh dilakukan, dan apa resiko lingkungan termasuk kesehatan yang mungkin timbul akibat perilaku itu.

“Diharapkan, setelah ada kegiatan sosialisasi minimal masyarakat menjadi tahu. Karena pengetahuan yang baik akan meningkatkan kesadaran, mengubah paradigma, memberikan upaya motivasi agar masyarakat mau mengadopsi informasi yang diberikan. Sehingga mendorong terjadinya perubahan sikap dan pada akhirnya mengubah perilaku,” ulasnya.

Lebih lanjut, dia berujar, perubahan perilaku dapat diupayakan melalui keterampilan, ketersediaan akses atau sarana, dan dukungan sosial.

“Dilakukan melalui upaya promotif dan preventif. Kemudian, disertai upaya pendekatan yang tepat, dengan memberdayakan masyarakat dan membentuk kelompok swadaya yang tergerak untuk berpartisipasi aktif,” urai Epi Ria Kristina Sinaga.

Adapun narasumber dalam kegiatan sosialisasi diantaranya Kepala Desa Sumur Batu Adi Nurhikmat, Bidang Promosi Kesehatan Puskesmas Babakan Madang, Yana, dan Dosen FKM UI Depok Rico Kurniawan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.