Warga Tolak Pembangunan Tower BTS d Leuwisadeng

Pembangunan tower BTS di Leuwisadeng yang ditolak oleh warga. Firman | Pakar

LEUWISADENG – Pembangunan Base Transceiver Station (BTS) atau tower pemancar sinyal di wilayah Desa Sadeng RT 03/01, Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, mendapatkan penolakan warga dan langgar aturan perizinan, Kamis (02/11/23).

Pembangunan tower mendapatkan penolakan warga sekitar, sebab pembangunan tersebut hanya berjarak 1 meter dari kediaman rumah warga, bahkan lebih parahnya lagi melanggar aturan.

Dalam Pengaturan pembangunan menara telekomunikasi terdapat dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 02/Per/M.Kominfo/03/2008. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa pembangunan tower minimum 20 meter dari jarak kediaman warga. Parahnya, bangunan tersebut hanya berjarak setengah meter dengan pemukiman warga.

“Kami keberatan dengan adanya pembangunan tower BTS yang ada di belakang rumah saya yang hanya berjarak setengah meter,” ungkap Siswo pemilik rumah.

Ia mengatakan, dalam pengajuan site plan pendirian tower berjarak 300 meter dari kediaman nya. Namun, setelah pelaksanaan pembangunan berbenturan dengan peruntukan, sehingga dirinya merasa keberatan. “Rencana pembangunan awalnya jauh dari rumah saya, ternyata pelaksanaannya malah di belakang rumah saya. Sehingga membuat cemas, tidur juga jadi tidak nyenyak. Bahkan pengerjaan saat ini aja suara-suara berisik sudah mengganggu saya,” paparnya.

Selain itu, upaya secara normatif dan secara persuasif telah dijalankan oleh dirinya dan warga sekitar. Namun, upaya tersebut tidak digurbis dengan baik bahkan tidak diindahkan oleh pihak perusahaan provider.

Parahnya lagi, pada kegiatan itu para pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) bahkan dengan bebas naik tower tanpa alat pengaman dan safety belt, sehingga melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia nomor 50 tahun 2012 mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

“Karena tidak ada penyelesaian sampai saat ini. Bahkan pihak pol PP juga sudah mendatangi kesini. Tadi kita juga dengan warga yang lain nya menggelar Demo, tetapi kita tidak di ijinkan masuk,” bebernya.

Sementara itu, Kasi Trantib Satpol PP Leuwisadeng Cepy Tarmiji mengatakan, bahwa terkait dengan keluhan pembangunan tower BTS yang berdiri di belakang rumah warga tersebut. Pihaknya mendapat laporan masuk pada tanggal 18 Oktober 2023.

“Jadi laporan masuk pada tanggal 18, warga kesini datang dan meminta kita turun kelapangan, yang mana warga merasa keberatan dengan berdirinya tower itu di belakang rumah warga. Pada hari itu juga saya turun langsung kelapangan,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa upaya telah pihaknya lakukan. Namun, tidak ada kesepakatan yang saling menguntungan sehingga beberapa warga melakukan aksi demo. “Sampai sekarang belum ada kabar lagi ke saya, baik masalah warga disitu berapa besarnya biaya kompensasi itu saya tidak tau,” pungkasnya. FIR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.