Warga Terdampak Proyek Bendungan Ciawi Lakukan Pertemuan Dengan Pihak Kementerian-PUPR dan PT Abipraya

Perwakilan warga saat bertemu dengan perwakilan Kemen-PUPR dan PT Abripraya di Bendungan Ciawi. (Yusman | Pakar)

MEGAMENDUNG – Perwakilan warga dari tiga desa yang terdampak pencemaran Aliran Sungai Ciliwung akibat matrial lumpur dan batu proyek pembangunan Bendungan Ciawi di Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor bertemu dengan pihak kementerian PUPR dan perwakilan PT. Abipraya, Rabu (23/2/2022).

Pertemuan itu membahas keterkaitan dampak yang ditimbulkan aktivitas proyek dalam kurun hampir dua tahun ini.

Tiga desa diantaranya, Desa Gadog, Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung dan Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi.

Kepala Desa Pasir Angin, Endang Setiawan mengatakan, keluhan warga terkait berubahnya kualitas air Ciliwung yang menjadi kotor terus datang ke pemerintah desa.

Warga terganggu karena air yang biasanya bisa untuk cuci mandi, kini tidak bisa digunakan sama sekali. Untuk itu, dalam pertemuan tersebut, ia meminta penjelasan dari pihak proyek.

“Dan juga kami minta ada upaya dari pihak proyek agar apa yang dirasakan oleh warga bisa dijawab dan ada pertanggungjawaban nya,” ujar Endang kepada wartawan.

Selain Kepala Desa Pasir Angin, keluhan juga disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Gadog, Azet Basuni.

Menurutnya, dampak air keruh dan kotor sudah memasuki tahun kedua. Selama itu, warga terus kesulitan mendapatkan air bersih. Tambak ikan warga juga tidak lagi berjalan.

“Semua itu akibat aktivitas proyek, jadi kami tidak mau bicara panjang lebar, kami butuh pertanggungjawaban,” tegas Azet.

Ia memahami jika ini menjadi strategis nasional yang perlu dukungan semua pihak. “Kami warga tentunya mendukung proyek pemerintah, tapi kami minta minimalisir dampak, kalau sudah terjadi warga tidak melihat ini proyek siapa, tapi mereka butuh tanggungjawab,” bebernya.

Sementara, Pelaksana Teknis PT Abripraya, Krisna mengatakan, setiap persoalan yang ditimbulkan akibat aktivitas proyek tentunya akan diselesaikan. Namun begitu, ia pun tidak akan gegabah mengambil keputusan. Tentunya akan melalui pembahasan terlebih dahulu.

Ia mengakui selama beberapa tahun kebelakang terjadi adanya pengerukan di Arel sungai Ciliwung sedalam 20 meter. Pengerukan ini yang menyebabkan kualitas air menjadi keruh dan kotor karena ada material yang sedang dikeruk.

“Dan Alhamdulillah masa kritis itu sudah dilalui dan air kembali mulai terlihat jernih,” katanya.

Namun soal pertanggungjawaban, ia juga memiliki Analisa Dampak Lingkungan. “Maka kita lihat dulu amdalnya, kalau memang masih batas wajar tentunya kita akan jelaskan,” ujar Krisna kepada wartawan.

Meski demikian, soal pertanggungjawaban, kemungkinan akan diputuskan pada Minggu depan setalah hasil pertemuan ini dibahas di jajaran pimpinan.

“Mudah-mudahan Minggu depan kita sudah bisa putuskan apa yang harus dilakukan, apakah nantinya konpensasi atau bentuk pertanggungjawaban lain,” tandasnya. =YUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.