Warga Teluk Pinang Harus Berurusan Dengan Polisi Karena Ulah Rentenir

Korban rentenir Ade Nurjanah saat memperlihatkan bukti pemanggilan polisi. IST

CIAWI – Aksi rentenir dalam menagih hutang memang membuat peminjam mengalami ketakutan, bahkan tak jarang hingga membuat trauma. Rentenir akan menagih hutang dengan berbagai teror. Kondisi ini terjadi pada Ade Nurjanah warga Teluk Pinang RT 03 RW 01 Desa Teluk Pinang, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Ade Nurjanah yang saat ini tinggal bersama orang tuanya mengaku selalu mendapat ancaman dari seorang rentenir (pemberi pinjaman uang tidak resmi) bernama Joko Susmono, lantaran belum bisa membayar cicilan sebesar Rp 2 juta dari total pinjaman Rp20 juta setiap bulannya.

Wanita yang akrab dipanggil Yanah itu menyampaikan bahwa Ia meminjam uang kepada salah satu Rentenir karena terdesak kebutuhan ekonomi dan juga untuk menambah modal usaha yaitu jual beli produk herbal. Namun, memasuki bulan ke tiga dirinya tak mampu membayar cicilan karena usaha yang dirintisnya mengalami penurunan di masa pandemi Covid-19.

“Awalnya itu saya kira bukan rentenir, karena sebelum akad orang yang menawarkan pinjaman itu menyampaikan pembayarannya bisa dicicil dan saya pikir seperti pinjaman ke bank. Akhirnya saya coba pinjam kepada orang tersebut dengan jaminan sertipikat rumah milik orang tua. Waktu itu di bulan Maret 2021 tanggal 6,” ujar Yanah saat menceritakan kronologi kepada wartawan di rumahnya.

Sebelum mendapat uang pinjaman, dirinya membuat perjanjian selama satu tahun dengan cicilan Rp 2 juta perbulan yang disertai jaminan sertipikat rumah milik orang tuanya. Setelah perjanjian disepakati, akhirnya seorang Rentenir memberikan pinjaman uang sebesar Rp16 juta dari total Rp 20 juta.

“Untuk total pinjaman itu Rp 20 juta, tapi saya menerima Rp 16 juta, karena uang Rp 2 juta langsung di potong untuk angsuran pertama, kemudian yang Rp 2 juta lagi untuk mediator,” ungkapnya.

Kemudian, untuk angsuran kedua dirinya masih bisa membayar. Namun memasuki angsuran ke tiga dia tidak punya uang hingga menunggak dua bulan. “Dari situ saya selalu di WA, di telpon, hingga ucapan kasar, bahkan orang tersebut mengancam saya, katanya jika tidak bisa membayar maka ancamannya nyawa,” ucapnya

Setelah mendapat ancaman tersebut, Ia pun bingung dan panik, sehingga Ia terus berusaha mencari pinjaman ke sana kemari untuk menutup pinjaman ke Rentenir tersebut. Namun apa daya, usaha yang dilakukan Yanah tidak membuahkan hasil hingga akhirnya rentenir tersebut datang ke rumah untuk menagih hutang.

“Dari situ dia Rentenir beberapa kali ke rumah, bahkan sampai menginap tanpa izin RT. Kebetulan waktu itu orang tua saya punya Rp500 ribu dan saya pinjam untuk membayar hutang ke orang Rentenir,” bebernya.

Lanjut Yanah, orang tersebut kembali lagi datang ke rumah untuk menagih, waktu itu Yanah sedang tidak ada di rumah karena sedang berusaha mencari uang untuk membayar angsuran. “Jadi waktu datang ke rumah cuma ada bapak dan kakak saya, orang Rentenir membawa surat perjanjian dan meminta bapak dan kakak saya untuk menandatangani surat perjanjian tersebut yang isinya untuk keringanan dua bulan dengan catatan membayar hutang sebesar Rp 26 juta, dari Rp 20 juta yang saya pinjam,” jelasnya.

Tak sampai di situ, ancaman dan tekanan terus diluncurkan dari pihak rentenir kepada Yanah dan keluarganya. Bahkan, namanya dilaporkan ke Polsek Ciawi dengan tuduhan penggelapan dan penipuan. Padahal, sesaat sebelum dilaporkan itu pihaknya sudah beritikad baik untuk membayar angsuran meski tidak full, namun namanya sudah dilaporkan ke polisi.

“Beberapa waktu lalu saya dipanggil polisi untuk dimintai keterangan dan Senin besok saya kembali dipanggil oleh Polsek Ciawi,” tandasnya. =YUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.