Warga Keluhkan Belum Terima Hak Pembebasan Lahan Flyover Stasiun Tenjo

TANJO – Pembangunan flyover Stasiun Tenjo, Kabupaten Bogor menuai polemik, sebab salah satu warga pemilik bangunan dan tanah belum mendapatakan haknya dari pembebasan lahan yang diperuntukan untuk pembangunan.

Untuk meluapkan kekesalannya, warga melakukan pemasangan banner. Dalam banner tersebut di tulis “Kami hanya menuntut keadilan. Wahai pemangku kebijakan Pemkab Bogor dan PT. Mitra Abadi Utama (MAU), buka mata hati kalian!!! Tinjau ulang hasil Appraisal independen. Tanah kami sudah bersertifikat”. “Keluhan saya keberatan karena harga tidak sesuai. Dari awal sampai tiga kali pertemuan tidak ada negosiasi atau sekedar menawarkan terkait harga tanah yang sebenarnya,” kata salah satu warga pemilik tanah Lim Andri Susilo.

Namun, kata dia dalam pertemuan terakhir yang di panggil oleh PT. MAU terkesan adanya intervensi kepada Lim Andri Susilo. “Jadi harga itu lima juta kalau tidak mau akan di bawa ke pengadilan gitu kata mereka, tapi maaf ya jangan bilang-bilang ke kepala desa gitu bilangnya itu dari pihak PT MAU,” tuturnya.

Bahkan pada saat pengukuran dia menyatakan, akan mengambil tiga meter hingga ke tiga kali mengukur itu selalu bertambah. “Dalam pengukuran, tanah saya yang terdampak 147 meter. Sementara yang terdampak bangunan itu di ukur ulang oleh tim Appraisal 172 meter, saya oke saja meski saya tidak mengetahui berapa meter yang mereka ambil,” paparnya. “Padahal tuntutan saya kalau di itung-itung dari penghasilan usaha dari tanah tersebut tidak sebanding” tambahnya.

Dia berharap pihak terkait dapat mempertimbangkan dan memenuhi adanya keberatan. Dia bukan menolak akan pembangunan tersebut bahkan sangat mengapreasi adanya proyek flyover, akan tetapi disisi lain ini tempat usaha satu-satunya dan harus di gusur demi kepentingan umum.

“Saya berharap orang-orang yang berkepentingan tentunya para pemangku kebijakan bisa memikirkan nasib saya dan keluarga Karena ini tempat usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, hanya ini satu satunya usaha penitipan kendaraan sepeda motor tidak ada lagi usaha lainnya. Bagaimana nasib saya kedepannya, kalau yang lain mah dibongkar bisa bergeser. Kalau kita udah di bongkar udah gak ada lagi tutup usaha selamanya,” harapnya.

Sementa itu, Kepala desa Tenjo Rudi Haerudi memaparkan, bahwa tahapan demi tahapan dalam melakukan proses negosiasi dengan warga cukup panjang, bahkan sosialisasi dilakukan secara bersama sering kali dilakukan. Namun, hanya satu warga yang masih menolak kesepakanan berasam.

“Awalnya muncul di angka 1,6 warga menolak, kami dari pemdes dan kecamatan juga membantu agar supaya warga kita dapat dilebihkan.
Jadi naik angkanya menjadi 2,5 juta dari delapan pemilik tetapi bangunan lain lagi, dan itu tim Appraisal yang menilai kami cuman mendampingi,” ujarnya.

Kata dia, pada saat itu warga masih menolak sehingga pihaknya bantu masyarakat ke pihak Pemerintah Kabupaten Bogor dengan PT.MAU meminta kenaikan lagi dan saat itu dinaikan lagi di angka 5 juta. “Dari angka 5 juta tujuh pemilik diantaranya menerima dan sudah dibayar oleh PT MAU yang mengeluarkan dana CSR untuk pembangunan tersebut,” katanya.

Jadi menurutnya, Flyover Tenjo ini kepentingan dan manfaatnya sangat luar biasa untuk masyarakat Kecamatan Tenjo dan dirinya juga sudah membantu agar angka tersebut untuk di naikkan lagi. “Memang benar satu warga kami masih belum memberikan lahan tanahnya, kita sudah bantu ke PT. MAU meminta kenaikan,” tuntasnya. FIR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.