Waduh, Insentif Nakes Garda Terdepan Penanganan Covid Sudah Beberapa Bulan Tidak Dibayarkan

Tenaga Kesehatan (Nakes) harus rela pembayaran uang tunjangan insentifnya macet selama lima bulan terakhir sejak November 2020. IST

CISEENG – Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, pemerintah pun masih terus berusaha menangani dan mengendalikannya penyebaran wabah corona ini dengan berbagai cara, salah satunya dengan program vaksinasi.

Satu pihak yang sejak awal sudah berjuang dan hingga haru ini masih berjibaku melawan Covid-19 adalah para tenaga kesehatan (nakes).

Melihat hal ini, pemerintah melalui Kemenkes sebagai leading sektor penanganan membuat kebijakan pemberian tunjangan insentif bagi para nakes.

Tapi nyatanya, beberapa bulan terakhir ini, uang insentif bagi para nakes tersebut belum dicairkan alias macet. Dikonfirmasi hal ini, sejumlah nakes pun mengakui bahwa kemacetan pembayaran uang tunjangan insentif tersebut sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir tepatnya sejak akhir 2020.

“Iya mas, memang sejak bulan November tahun lalu (2020), uang tunjangan insentif tidak cair. Infonya ya cuma gitu aja, belum ada pencairan dari pusat katanya,” ungkap F (29) seorang tenaga perawat di salah satu pusat pelayanan kesehatan milik pemerintah, Minggu (28/3/2021).

Wanita yang juga ASN ini mengaku dirinya hanya bisa pasrah menerima kenyataan tersebut. Meskipun dirinya mengakui, bahwa tugas nakes di masa pandemi ini memang semakin banyak dan semakin berat.

“Tugas kami para nakes bertambah, apalagi saat ada pasien positif covid dan lainnya. Saat ini tugas tambahan baru adalah pelaksanaan vaksinasi. Ya meski berat tapi tetap kami jalani. Semoga pemerintah memperhatikan hal ini,” harapnya.

Terlambatnya pembayaran uang tunjangan insentif bagi nakes juga dibenarkan seorang praktisi medis sekaligus pemilik dari RS Sentosa, dokter Fritz M. Rumintjap.

“Dari data yang kami punya, macet pembayaran terjadi sudah lima bulan terakhir, tepatnya sejak bulan November 2020 lalu,” ungkap Fritz.

Ia menambahkan, rasa lelah para nakes makin bertambah karena tugas – tugas berat termasuk resiko kesehatan yang mengancam. Namun di sisi lain, bukan cuma insentif nakes yang macet, bahkan klaim biaya covid juga tidak cair.

“Saat kami tanyakan, alasannya macam – macam, misalnya soal administrasi dan lainnya. Padahal kalau hanya masalah administrasi belaka, pamdemi ini kan force major non alam. Yang jelas kami para nakes dan rumah sakit jadi korban keterlambatan pembayaran ini.” Tandasnya.

Untuk diketahui, dalam rapat kerja Kementerian Kesehatan bersama Komisi IX DPR RI pada awal bulan Februari 2021 lalu, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono menyatakan bahwa instansinya mengusulkan tambahan anggaran Rp134,46 triliun untuk penanganan Covid-19 pada 2021.

Dari total tersebut, Dante menyebut alokasi terbesar ialah untuk program terapeutik yaitu mencapai Rp61,85 triliun dengan perincian Rp32,22 triliun untuk klaim pasien, Rp16,83 triliun untuk insentif tenaga kesehatan, Rp6,40 triliun untuk sarana dan prasarana, Rp5,52 triliun untuk isolasi, serta Rp770 miliar untuk obat.

“Terkait insentif untuk tenaga kesehatan, kami sudah mengakomodasi keinginan dewan yang terhormat untuk tidak jadi memotong insentif bagi tenaga kesehatan. Tidak jadi dipotong alokasi insentifnya tetap sebesar Rp16,83 triliun berdasarkan perhitungan yang kami lakukan pada 2020 kemarin,” kata Dante dalam rapat kerja tersebut. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.