Tembus 85 Orang Positif Klaster Griya Melati, Pemkot Bingung Pusat Isolasi BPKP Penuh

BOGOR- Kasus positif COVID-19 pada klaster Griya Melati terus bertambah. Berdasarkan data, Kamis (27/5/2021), jumlah warga yang terkonfirmasi positif mencapai 85 orang. Hal itu membuat pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melakukan langkah-langkah cepat antisipasi dan memutus mata rantai penyebaran.

“Klaster Griya melati ini sejak awal jadi perhatian Forkopimda, kenapa penting Griya Melati karena ini masuk kategori yang sangat luar biasa, di sebuah kelompok masyarakat di perumahan ada jumlah kasus yang cukup besar. Untuk itu semuanya tertuju kesana dalam penanganan ekstra,” ungkap Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, Kamis (27/5/2021).

Penambahan kasus positif terus terjadi, bahkan pada hari ini bertambah lagi 15 orang berdasarkan hasil swab tes door to door, sehingga total warga positif menjadi 85 orang. Sebanyak 78 warga perumahan sudah dipindahkan ke pusat isolasi di Gedung Pusdiklat BPKP, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, untuk menjalani perawatan. “Hampir 78 sudah kita mobilisasi, atau pindahkan ke BPKP Ciawi, nah sisanya kita masih lakukan observasi,” jelasnya.

Dengan adanya penambahan kasus Covid-19 yang signifikan, ada kekhawatiran ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi tak akan menampung ketika ada lonjakan kasus positif. “Kita juga melihatnya begini, kapasitas BPKP itu hanya 100 (bed) dan sekarang sudah terisi 78, mudah-mudahan tidak terlalu banyak, atau ada penambahan lagi, itu harapan kita. Kalau terus bertambah, maka harus disiapkan skema lain,” bebernya.

Untuk itu, Dedie selalu mengingatkan kepada masyarakat dalam kondisi pandemi Covid-19 tetap disiplin, dan menjaga protokol kesehatan. Mantan Direktur KPK itu dengan tegas meminta kepada warga Kota Bogor agar bisa disiplin. “Tidak ada pilihan lain, karena bukan apa-apa, kalau kemudian kota Bogor bertambah jumlah terkonfirmasi hariannya kita mengkhawatirkan kembali ke posisi yang paling jelek atau zona merah, itu juga yg bisa menggagalkan kita menggelar PTM. Semua butuh kepatuhan dan ketaatan terhadap aturan,” tandanya.

Namun demikian, Dedie menegaskan bahwa pihak Pemkot Bogor tidak akan membuka opsi RS Lapangan ketika terjadi lonjakan kasus. “Sampai saat ini bed okupansi rasio di RS belum cukup tinggi, cuma yang kita khawatirkan dan yang sedang kita tunggu adalah hasil tes WGS (whole-genome sequencing),” katanya.

“Ketika hasil WGS merupakan jenis varian baru Covid-19 seperti yang terjadi di India, maka harus lebih berhati-hati. Kemudian, Kementerian Kesehatan harus menyiapkan obat-obatan yang sesuai dengan varian virus yang baru. Saat ini, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor sedang menunggu. Kita siapkan skenario ketika ada penambahan kasus maka akan dialihkan ke rumah sakit,” tambahnya. RIF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.