Social Eating dan Potensi Obesitas

Mintarsih (Mahasiswa Pasca Sarjana Tehnologi Pangan IPB, Bogor, Indonesia)

Ditulis oleh: Mintarsih (Mahasiswa Pasca Sarjana Tehnologi Pangan IPB, Bogor, Indonesia)

Latar Belakang
Aktivitas makan membuat sebagian besar orang menjadi sarana untuk bersosialisasi. Dalam buku best seller berjudul ’Don’t Eat Alone’ yang ditulis oleh Keith Ferrazzi menjelaskan bahwa aktifitas makan bersama menjadi tehnik membangun hubungan sosial yang dapat membantu kita untuk mencapai tujuan.

Dalam hal ini aktifitas makan baik makan kecil, minum kopi di caffee atau makan besar seperti makan siang dan makan malam bersama adalah media yang dapat dipakai. Aktivitas makan bersama atau sosial eating diduga memberikan pengaruh terhadap kualitas pola makan yang dapat berdampak pada potensi obesitas.

Tujuan

Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran potensi aktifitas sosial eating atau makan bersama terhadap meningkatnya prevalensi obesitas di masyarakat terutama di daerah perkotaan.

Pembahasan

Tren makan bersama juga terdapat di Indonesia terutama di area perkotaan dengan berbagai alasan seperti tuntutan pekerjaan yang harus menjamu atasan, rekan kerja maupun pelanggan, acara keagamaan dan budaya seperti buka puasa bersama, maupun berbagai festival keagamaan, dan acara sosial lainnya seperti reuni, ulang tahun dan arisan.

Dalam kegiatan makan bersama tersebut kebanyakan orang cenderung makan dengan posri besar bahkan berlebih dan jenis makanannya tergantung dari menu yang tersedia.

Slogan ’Diet di mulai besok’ sering menjadi alasan untuk menikmati hidangan dengan berlebihan. Tren di media sosial yang disebut mukbang (konten yang menampilkan seseorang yang makan makanan secara besar-besaran di depan kamera) juga mempengaruhi pola makan sebagian masyarakat yang tidak memiliki pemahaman pentingnya pola makan seimbang untuk kesehatan jangka panjang.

Di Indonesia saat ini sedang menghadapi permasalahan gizi ganda, yaitu adanya masyarakat yang kekurangan gizi, namun di sisi lain ada juga yang kelebihan.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 prevalensi underweight sebesar 19,6 persen dan kegemukan sebesar 11,9 persen. Pola makan diindikasikan menjadi salah satu penyebab kondisi tersebut yaitu pola makan yang tidak memperhatikan keragaman, proporsi dan kecukupan energi yang dibutuhkan oleh tubuh (Safitri, et al., 2016). Dalam studi yang lain, prevalensi obesitas (Body Mass Index > 25) di urban ditemukan lebih tinggi dari pedesan, dan wanita cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki (42,8% dan 29.2%). Selain faktor aktifitas fisik, yang menjadi penentu faktor obesitas adalah konsumsi makanan dengan kalori tinggi termasuk lemak (Khunsun, et al., 2015).

Dalam studi literatur yang dimuat dalam Jurnal Kesehatan Tambusai dalam 10 tahun terakhir di negara Brazil, Belanda, Korea, Amerika dan US memberikan data bahwa makan yang disiapkan di luar rumah atau makan di luar cenderung memberikan makanan dengan kalori tringgi dengan diet yang tidak seimbang (Rodhiah, et al., 2023).

Hal ini sejalan dengan pola makan modern yang cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji, gula, dan lemak tinggi yang memperburuk kualitas diet. Makan jauh dari rumah dikaitkan secara signifikan dengan asupan minuman ringan, makanan cepat saji, lemak total, dan lemak jenuh yang lebih tinggi, hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap kondisi status gizi seseorang jika dilakukan berulang-ulang atau menjadi kebiasaan.

Kondisi kebiasaan makan bersama di luar diperburuk dengan minimnya tempat makan yang menyediakan pilihan menu lebih sehat. Berkembangnya caffee dan restoran di berbagai tempat strategis menyediakan makanan yang cenderung memberikan kalori berlebih, kurang serat, vitamin dan mineral. Jenis minuman yang tinggi gula juga banyak berkembang di berbagai tempat makan dan pertemuan sebagian besar orang. Budaya kuliner yang menjadi hobi sebagian orang, baik saat melakukan perjalanan ataupun sekedar memuaskan penasaran pada tempat makan yang sedang viral, memberikan dampak pada kualitas diet seseorang.

Media promosi tempat makan dan jenis makanan pun telah bergeser, media sosial menjadi media yang menarik bagi sebagian besar orang, profesi konten kreator, jasa endorse menjadi populer bahkan menjadi cita-cita banyak generasi muda. Promosi ini menberikan pengaruh pada masyarakat yang melihatnya. Review tempat makan dan menu, serta kesan ’keren’ yang dibawakan oleh konten kreator sangat mempengaruhi pilihan tempat makan bagi sebagian besar orang.

Tempat makan yang ”istagramable” dengan jenis makanan yang estetik semakin menjamur dan banyak diminati. Tentu saja hal ini akan baik-baik saja jika porsi, variasi dan kandungan gizi dari pilihan menu yang disajikan dapat menjadikan pelanggan lebih sehat dan tidak sekedar memberikan rasa puas terhadap rasa serta memberikan kenyaman tempat untuk bersosialisasi.

Namun, kenyataannya pilihan menu yang disajikan bukanlah menu yang memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan dan cenderung menjadi faktor terjadinya obesitas.

Dalam jurnal Penelitian Gizi dan Makanan dilakukan tinjauan literatur tentang hubungan gaya hidup dengan penyakit jantung koroner (PJK) untuk orang dewasa di Indonesia. Hasil dari tinjauan ini menyimpulkan bahwa faktor gaya hidup yang meningkatkan risiko PJK pada orang dewasa Indonesia adalah pola makan tinggi konsumsi karbohidrat dan lemak, aktivitas fisik rendah, dan merokok (Hanifah, et al., 2021).

Dari data ini dapat disimpulkan bahwa perbaikan pola makan dengan tidak mengkosumsi karbohidrat dan lemak berlebihan, dapat menjadi upaya untuk pencegahan penyakit PJK.

Kesimpulan
Sudah saatnya intervensi pencegahan terhadap obesitas dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memberikan pilihan menu lebih sehat ketika orang melakukan aktivitas makan bersama di tempat makan atau restoran. Edukasi kecukupan gizi seimbang perlu dilakukan sebagi landasan orang untuk memilih menu, selain itu tempat makan sebaiknya didorong untuk memberikan pilihan-pilihan menu yang lebih sehat dan seimbang secara nutrisi dan memberikan informasi nilai gizi dari setiap menu yang dihidangkan.

Upaya seperti ini tentu perlu usaha dari berbagai kalangan termasuk peran pemerintah, baik dalam pendidikan gizi yang dapat di masukkan ke pendidikan dasar, maupun dorongan terhadap pengusaha jasa boga.

Referensi:
Hanifah, W., Oktavia, W. S. & Nisa, H., 2021. Faktor Gaya Hidup dan Penyakit Jantung Koroner: Review Sistematik pada Orang Dewasa Indonesia. The Journal of Nutrition and Food Research, 44(1), pp. 45-58.
Khunsun, H., Wiradnyani, L. A. & Siagian, N., 2015. Factor associated with overweight/obecity among adults in urban Indonesia. Penelitian Gizi dan Makanan, 38(2), pp. 95-110.
Rodhiah, W. S., Chandra, D. N. & Khusun, H., 2023. Association Between Social Eating and Diet Quality Among Adult. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), pp. 4337-4345.
Safitri, A., Jahari, A. B. & Ernawati, F., 2016. Konsumsi Makanan Penduduk Indonesia Ditinjau dari Norma Gizi Seimbang (Food Consumption in Term of the Norm of Balanced Nutrition). Penelitian Gizi dan Makanan, 39(2), pp. 87-94

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.