Seri 1-1, Jerman Muda Tersingkir Dari Olimpiade 2020

Dua pemain Pantai Gading merayakan gol bunuh diri Benjamin Henrichs pada menit ke-69’ pada fase grup dari gelaran Olimpiade Tokyo 2020 cabang olahraga sepak bola, di Stadion Hitomebore Miyagi, di kota Rifu, Jepang, Rabu [28/7/2021], sore WIB tadi. Twitter.com|@Tokyo2020

PERAIH medali perak Olimpiade 2016, Jerman U-23 tersisih di fase grup dari gelaran Olimpiade Tokyo 2020 cabang olahraga sepak bola. Tim Panzer muda kalah bersaing dengan Pantai Gading U-23 dan Brasil U-23.

Skuad asuhan Stefan Kuntz, harus tersingkir setelah mencatatkan hasil imbang 1-1 [0-0] lawan Pantai Gading dalam partai terakhir Grup D yang digelar di Stadion Hitomebore Miyagi, di kota Rifu, Jepang, Rabu [28/7/2021], sore WIB.

Membutuhkan kemenangan, pasukan muda Jerman justru tampil melempem menghadapi wakil Afrika. Tidak banyak peluang berarti ketika kedua tim menutup babak pertama tanpa gol.

Justru Timnas berjulukan Les Éléphants [para gajah] yang membaik setelah turun minum dan berhasil memecah kebuntuan terlebih dahulu lewat gol bunuh diri Benjamin Henrichs pada menit ke-69’.

Menit ke-73’, Jerman membalas melalui gol tendangan bebas indah, Eduard Löwen. Hanya saja, momentum positif itu tidak berhasil mereka lanjutkan. Sepanjang sisa waktu permainan, lini tengah Pantai Gading yang digalang pemain senior milik AC Milan, Franck Kessie tampil lugas memotong sejumlah percobaan serangan Jerman.

Skor 1-1 bertahan hingga laga berakhir dan hasil imbang ini membuat Jerman sebagai peraih medali perak Olimpiade 2016 tersingkir di fase grup edisi tahun ini.

Jerman tertahan di posisi ketiga dengan koleksi empat angka dari tiga pertandingan, sementara Pantai Gading lolos sebagai Runner-up grup dengan raihan 5 poin.

Pasukan asal Afrika itu menemani Brasil lolos ke perempat-final turnamen, dengan Selecao menyegel posisi puncak grup usai menang 3-1 atas juru kunci Arab Saudi di hari yang sama.

Dilansir dari Rhein-Zeitung, setelah pesepakbola Jerman tersingkir dari Olimpiade, pelatih Stefan Kuntz mengecam keras regulasi ketat di Jepang.

“Kami mengenal orang-orang disini sangat ramah. Kalau tidak, dari sudut pandang saya, tidak ada sama sekali tentang perasaan Olimpiade, kecuali dua kunjungan ke desa Olimpiade,” kata Kuntz, setelah bermain imbang 1-1 melawan Pantai Gading.

“Kami di barak, dikurung, tidak diizinkan keluar ke jalan. Kami hanya diperbolehkan membuka balkon, setelah bolak-balik cukup lama. Saya harus mengatakan: Saya ingin memiliki lebih banyak bakat Olimpiade,”tambah Kuntz. 

“Itu tidak ada hubungannya dengan fakta, bahwa kami adalah pesepakbola atau bahwa pesepakbola ingin memiliki posisi khusus,” kata Kuntz.

Tuan rumah Jepang telah menetapkan aturan yang konsisten di Olimpiade, karena pandemi Corona. Penonton tidak diperbolehkan dengan beberapa pengecualian, ada banyak tes Corona dan sedikit kebebasan untuk semua orang yang terlibat dalam acara tersebut.=URI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.