Sepi Pengunjung, Pengelola Wisata Di Leuwiliang Gigit Jari

LEUWILIANG- Diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro hingga 22 Maret 2021 oleh pemerintah pusat pada beberapa wilayah salah satunya propinsi Jawa Barat, masih berdampak signifikan pada sepinya kawasan wisata yang jadi incaran para wisatawan disetiap akhir pekan, diantaranya kawasan wisata Puncak.

Sementara Aturan yang masih diberlakukan Pemkab Bogor terkait perpanjangan PPKM tersebut di hari libur, yakni hanya warga yang punya Surat Anti Gen Bebas Covid19 saja yang diperbolehkan masuk Bogor terutama untuk mengisi libur akhir pekan ke beberapa lokasi wisata.

Dari pantauan dilapangan, dampak perpanjangan PPKM pada sepinya Beberapa kawasan wisata di Kabupaten Bogor, juga dialami Bogor Barat seperti kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE) Pamijahan, Goa Gudawang di Cigudeg dan beberapa lokasi wisata yang ada di Leuwiliang.

“Benar, sudah setahun ini kawasan wisata Panorama Pabangbon dan Bukit Bintang anjlog pengunjung,”kata Novi Sekretaris Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang kepada PAKAR.

Masih kata Novi, sebelum ada pandemik Covid19 dan pemberlakuan PSBB atau PPKM, jumlah pengunjung dihari Sabtu dan Minggu ke lokasi Wisata Panorama Pabangbon maupun ke wisata Bukit Bintang di Desa Cibeber 2, dalam sehari mencapai ratusan orang.

“Tapi mulai terhitung Januari 2021 hingga Maret, jumlah pengunjung hanya tercatat 49 orang saja, sehingga jika diambil rata rata, dalam sebulan kawasan wisata yang ada di desa kami hanya di datangi oleh 16 orang wisatawan saja.”ungkapnya.

Akibat anjlognya pengunjung ke kawasan wisata di desanya tersebut sambung Novi, membuat puluhan Kepala Keluarga (KK) warga Desanya yang selama ini bergantung dari usaha warung, jaga Parkir maupun jualan souvernir dan kue kering hasil produk UMKM warga Pabangbon, tidak lagi punya uang.

“Terutama warga yang masuk dalam kelompok Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai pelopor dibukanya wisata PAPA di desa kami.”,tukasnya.

Ugan warga Pabangbon yang masuk dalam kelompok LMDH Pabangbon menambahkan, akibat pandemik Covid19 terus berkepanjangan dan merajalela, sejak setahun kondisi ekonomi keluarganya morat marit berantakan.

“Yang biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu bisa meraup Rp. 600 ribu hingga Rp. 1 juta. Kini hanya bisa untuk buat makan saja alias perolehan warung saya setiap hari libur, paling banter hanya Rp. 30 ribu saja setiap hari”,pungkasnya. JEF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.