Semua Akan Covid Pada Waktunya, Oleh: Dr David Rizar Nugroho, S.S., M.Si

JUDUL di atas adalah selarik chat di wa saya dengan salah seorang sahabat saya. Dia bercerita tentang kegundahan hatinya lantaran dua Asisten Rumah Tangga (ART) positif Covid usai swab. “Kenanya di mana ya? Yang satu tinggal di rumah satu lagi pulang pergi, datang pagi sore pulang,” ujarnya.

Dia khawatir dirinya yang menjadi sumber penularan karena tiap hari meski tengah PPKM Darurat, sahabat saya ini keluyuran positif. Karena dia diserahi tanggung jawab mengurus bantuan sembako untuk warga korban covid terutama yang menjalani isoman.


“Tenang BRo. Gue yakin ART Lo kena dari udara atau airbone. Kayak gue ini terpapar” ujar saya.

Well yang selalu dikampanyekan menghadapi corona adalah 3M dan sekarang 5 M. Tapi pesan bahwa airborne sebagai media efektif transmisi tak pernah di buka secara terang benderang ke publik.

Saat saya menulis kolom ini, saya sudah tiga hari isoman pada minggu hasil test PCR saya mengkonfirmasi saya positif covid dengan CT Value 19. Misalnya saya keluar rumah tidak pakai masker saya bernafas normal lalu hembusan nafas saya yang keluar dari hidung tertiup angin misalnya 10 meter saja lalu ada yang melintas melewati asaya dan mereka yang melintas menghirup hembusan nafas saya yang tertiup angin tadi yang terjadi infeksi virus korona apalagi kondisi badan yang melintas tidak fit.

Saya yakin betul dengan analisis saya, airborne media penyebaran efektif terutama virus delta. Ada kejadian di bandara Halim lelaki pergi ke luar Jawa dia positif korona. Lolos karena menyamar menggunakan hijab dan pcr istrinya jadi lolos bisa terbang.

Ketahuan ketika mau mendarat dia membuka hijabnya oleh pramugari saat turun dari pesawat dia diamankan. Berarti katakanlah perjalanan pesawat itu 2 jam.

Maka, selama 2 jam lelaki itu menghirup dan menghembuskan nafas di kabin kemudian tertiup AC pesawat dan penumpang kru menghirup ramai ramai. Kenapa gak semua kena covid padahal jelas ada pasien covid? Mungkin imun lagi bagus.


Sekarang cerita saya. Sudah sering saya kumpul kumpul di era PPKM Mikro dengan kolega terus ada kolega yang kena saya swab antigen negatif.

Itu pasti saya lakukan jika kumpul-kumpul ada yang positif. Pernah Jumat rapat di Pemda eh yang duduk samping saya besoknya positif minggu saya antigen negatif.

Badan gak enak dikit saya antigen dekat rumah negatif. Setelah berlaku PPKM Mikro saya memang keluyuran terus. Bahkan Abis lebaran keluyuran ke Jogja Bali.

Tentu patuh prokes dong. Test antigen selalu. Nah setelah pulang dari Bali itu saya mulai was was melihat kenaikan angka covid di negara kita.

Sebelum PPKM Darurat diberlakukan minggu kedua Juni saya sudah mengurung diri di rumah. Di suruh pulang nengok ibu saya menolak karena PKKM Darurat.

Sampai pada kabar ibuku tercinta wafat tgl 11 Juli 2021. Pagi masih berjemur sore pas adzan ashar meninggal dunia. Sore itu aku langsung pulang sebelum magrib sudah tiba di rumah dan ibuku sudah terbujur kaku.

Saya tidak bercerita episode ini. Malam itu kurang tidur Senin jam 10 ibuku dimakamkan singkat cerita jam 12 rombongan sudah di rumah kembali. Sampai rumah saya langsung mandi lanjut sholat ashar lalu tidur.

Abis ashar aku minta antar adikku test antigen karena Minggu dan Senin aku berkerumun. Hasilnya negatif lega rasanya. Aku tahu test itu terlalu pagi dilakukan karena masa inkubasi virus 4-5 kemudian.

Selasa Rabu normal, tahlilan digelar tiap malam dan saya gak berkerumun karena saya baca tahlil di kamar jadi gak ikut ngeriung.
Kamis mulai gak enak nih. Mulai kedinginan tenggorokan gatal. Jumat muncul batuk batuk puncaknya Sabtu malam saya batuk sepanjang malam.

Minggu pagi saya minta antar adik ke klinik 24 jam. Dokter periksa suhu 36,3 tensi 120:80 dadaku di ketok ketok. Positif radang tenggorokan dikasih antibiotik plus dua obat anti radang.

Ah mau pulang aja deh tapi keingat Senin aku mau ketemu bosku di Sentul City. Akhirnya aku putuskan untuk test PCR di Drive True. Proses nya cepat bayar Rp 777.000 setelah magrib hasil test PCR keluar: Aku Positif Covid.

Sumpah saya tidak kaget siapapun yang test PCR dengan kondisi flu atau batuk batuk sepertinya saya kemungkinan besar hasilnya positif covid. Ini Disclamer ya. Besok pagi tiba tiba masuk wa dari Kemenkes bahwa Saya positif sudah terdata si Kemenkes dan bisa memproses pengambilan obat gratis melalui kimia farma dan diantar gratis juga dengan di cepat.

Obat itu datang malam hari. Ya sudah saya tidak usah beli obat, saya minum aja obat dari negara. Terima kasih pak Presiden. Pertanyaan siapa yang menginfeksi saya? Saya jawab tegas: airborne.

Saya terinfeksi karena kurang tidur Ngurus jenazah ibu, jadi kondisi badan tidak fit. Betul saya sudah dua kali vaksin sinovac. Vaksin ini membuat kondisi saya sejarang seperti OTG plus batuk saja. Baru hari ini merasakan anosmia.

Gak bisa mencium bau bau tapi makan masih enak walau ada rasa hambar dikit. Selama prosesi pemakaman berkerumun saya prokes masker tidak pernah lepas. Di areal pemakaman Selapanjang begitu ramai yang meninggal biasa dan yang covid sanak saudara dan handai taulan pun hilir mudik. Ya pasti tidak steril saya yakin disitu saya menghirup udara yang ada virus corona ya.


Tulisan ini bersambung dan akan saya ceritakan bagaimana “penderitaan” pasien Covid seperti yang saya rasakan. Rasanya pengen orasi di depan penyekatan yang dilakukan petugas di mana warga nekat ngotot melintas. Saya cuma bilang: corona nya pilihannya cuma dua: hidup atau mati. PKKM Daturat itu cara agar gak banyak lagi saudara kita yang mati. Anda ngotot-ngotot karena belum tertular seperti saya. Hayo sini rasain kalau gak percaya. Segitu aja dulu deh… (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.