Sempat Terpecah Belah Akibat Pilpres dan Pileg, Tradisi Adu Kuluwung di Jonggol Kembali Satukan Masyarakat

Kuluwung atau Blecon saat akan dikerjakan di acara festival Kuluwung, di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. IST

JONGGOL – Tradisi adu kuluwung atau blecon kembali digelar masyarakat di sekitar kali Cipamingkis, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor pada Minggu hingga Senin (15/4/2024).

Dalam tradisi tersebut, dua kelompok warga saling adu ledakan meriam karbit dalam tradisi perang kuluwung antar Kampung Jagaita dan Ciledug, Desa Jonggol Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor

Adu kuluwung yang dibatasi kali Cipamingkis ini berlangsung ramai dan meriah. Selain itu, gelaran tradisi kuluwung ini juga dimanfaatkan masyarakat bersilaturahmi di masa libur lebaran ini.

Salah seorang panitia kegiatan kuluwung, Herman mengatakan, untuk membuat kuluwung-kuluwung ini membutuhkan waktu yang lumayan lama.

Selain harus mencari dulu pohon randu yang saat ini sudah mulai habis di Kecamatan Jonggol, proses pembuatannya pun butuh waktu lama hingga menghasilkan suara kuluwung atau Blblecon yang baik.

“Dari sebelum bulan puasa sudah kita mulai persiapan, dari mulai nyari pohon randu hingga proses pembuatannya,” ujar Herman di lokasi gelaran tradisi kuluwung.

Bahkan, kata dia, saat ini untuk mendapatkan pohon randu warga harus berburu ke wilayah Cianjur hingga Sukabumi.

“Ini tradisi lama memeriahkan lebaran, jadi 2 kampung ini saling berbalas tembakan ada 14 kuluwung karbit, dan bergantian jadi tradisi yang sempat terhenti 5 tahun 2018-an,” ucapnya

Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Jonggol, Beben Suhendar mengungkapkan, tradisi kuluwung di Jonggol ini telah ada sejak tahun 1970 an antara Kampung Karni dengan Kampung Kaur Kuning, Desa Jonggol.

“Ini cikal bakal adu kuluwung di Jonggol, makanya kita menyebutnya dua kampung ini menjadi legendaris,” ujar Beben kepada wartawan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi kuluwung semakin disukai masyarakat. Bahkan, tidak hanya masyarakat Jonggol tapi hingga masyarakat di luar Kabupaten Bogor seperti, Bekasi dan Jakarta.

“Iya sekarang yang datang menyaksikan tradisi Kuluwung dari Jakarta, Karawang dan Bekasi, dan kecamatan di Kabupaten Bogor lainnya,” ucapnya.

Tidak hanya itu, adu kuluwung saat ini juga diramaikan para YouTubers dan penggiat media sosial untuk sekedar memenuhi kebutuhan konten mereka.

“Penggiat media sosial pun ramai mengabadikan keberanian menyalakan meriam karbit dengan menggelegar, memekakan telinga dan dada hingga mengeluarkan api pada moncongnya,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, meski masyarakat Jonggol ini sempat terpecah belah saat Pilpres dan Pileg lalu, namun dengan gelaran tradisi Kuluwung ini mereka kembali bersatu.

“Bahkan biaya pembuatan kuluwung hingga petasan itu swadaya masyarakat, padahal biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah,” terangnya.

Biaya tersebut meliputi, pencarian pohon randu, pembuatan kuluwung melalui orang profesional. Belum lagi biaya angkut menggunakan truk kontainer, ditambah alat pengangkat pohon randu yang panjangnya bisa mencapai 8 meter.

“Kalau ngangkatnya harus pakai crane, dan diangkut menggunakan truk panjang sejenis container,” imbuhnya.

Ia meminta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor bisa menangkap potensi budaya ini dengan menjaidkan agenda tahunan di Kabupaten Bogor

“Kalau pemerintah masuk bisa di arahkan bagaiman safety cara bermainnya, keamanan nya, edukasinya dan banyak yang bisa dikelola untuk ide kreatif lainnya,” bebernya.

Selain itu, jika tradisi ini bisa dijadikan event tahunan Disbudpar, tentunya akan lebih baik dengan dikemas dan dipadukan dengan seni budaya, supaya bukan lokal saja yang datang tapi internasional, bukan tidak mungkin itu semua.

“Artinya ini memerlukan perhatian khusus termasuk juga dari sisi keamanan, dampak ini meningkatkan ekonomi karena semua bisa menikmati,” tandasnya. =YUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.