Selain Faktor Alam, Bencana Banjir Juga Diduga Akibat Pendangkalan Sungai, DSDA Provinsi Bilang Begini

Petugas UPTD PSDA Bogor terjun ke lokasi bencana banjir guna meninjau kondisi sungai Cimanceuri, tepatnya di Desa Dago, Kecamatan Parungpanjang. IST

PARUNPANJANG – Musibah bencana banjir yang melanda Desa Dago, Kecamatan Parungpanjang dan Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin serta tiga desa lainnya, selain karena faktor hujan deras, tapi juga diduga kuat karena ada pendangkalan sungai.

Menurut Dadang (45), seorang warga Kecamatan Parungpanjang, banjir di Desa Dago bukan baru kali pertama terjadi, karena sebelumnya juga sudah pernah terjadi bencana serupa meskipun skala dampaknya lebih kecil dan korban lebih sedikit.

“Selain karena faktor alam, banjir juga akibat pendangkalan dasar sungai Cimanceuri. Sudah harus ada normalisasi, minimal dilakukan pengerukan lumpur. Karena di hulu banyak galian tambang, sehingga banyak menyisakan lumpur,” kata Dadang, Selasa (24/8/2021).

Hal senada diungkapkan Ibnu Sakti Mubarok, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Rumpin (HMR). Dari hasil investigasi dan analisa yang di lakukan HMR, kata Ibnu, banjir di Desa Cipinang juga terjadi karena air sungai Cibunar meluap.

“Ini sudah kejadian kedua, air sungai Cibunar meluap dan berdampak banjir. Dadi hasil temuan kami, kedalaman sungai Cibunar mulai berkurang karena adanya tumpukan material lumpur. Dugaan kuat, hal ini terjadi karena limbah lumpur usaha tambang. Sebab, sebelumnya bencana tanah longsor juga akibat galian tambang,” beber Ibnu.

Dikonfirmasi hal ini, Kepala Seksi Perencanaan Teknik Dinas Sumber Daya Alam (DSDA) Provinsi Jawa Barat, Yulianti J. menuturkan, pihak DSDA Provinsi tidak bisa melakukan normalisasi karena itu kewenangan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane.

“Untuk normalisasi sungai, menjadi kewenangan BBWS, kami tidak bisa masuk. Kalau untuk penanganan darurat bisa. Tapi akan kami coba koordinasikan dengan BBWS,” jelas Yulianti, saat dihubungi media ini.

Ia menambahkan, musibah banjir di Desa Dago, berdasar hasil survey langsung petugas PSDA Bogor, dilaporkan bahwa betul di lokasi itu memang ada tanggul penahan tanah dan pasangan linning yang jebol, karena dihantam banjir.

“Sudah dua kali terjadi. Pertama tanggal 10 Agustus 2021, PDA Cimanceuri air sungai limpas di pasangan linning penahan PDA Cimanceuri. Yang kedua hari Sabtu tanggal 21 Agustus 2021 justru air di PDA 45 centimeter malah naik airnya tinggi sekali hingga masuk ke pemukiman penduduk,” tuturnya.

Yulianti menambahkan, dari hasil peninjauan langsung oleh petugas PSDA, juga ditemukan ada pohon besar yang tumbang dan malang di lokasi aliran sungai Cimanceuri.

“Untuk tindak lanjutnya, kami masih menunggu laporan lengkap dari petugas UPTD PSDA Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane di Bogor,” pungkas Yulianti. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.