Pramuka Ancuwil I Kabupaten Bogor Silaturahmi ke Kampung Adat Urug

Gerakan pramuka Ancuwil I l melakukan kunjungan ke Kampung adat Urug. IST

SUKAJAYA – Gerakan pramuka Andalan Cabang Urusan Wilayah (Ancuwil) I Kabupaten Bogor, berkunjung ke tempat bersejarah kampung adat Urug di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, akhir pekan kemarin.

Kunjungan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menambah pengetahuan ilmu dan sejarah Kampung urug. Rombongan itu pun disambut baik Puun atau pemimpin adat Kampung Urug.

Rombongan berjumlah kurang lebih 40 orang dari pengurus kwartir ranting se-wilayah I Kwarcab Kabupaten Bogor, diantaranya Sekretaris Cabang (Sekcab) A. Kosasih, Ancunwil I, Ahyani dan Andalan Cabang Urusan Bina Muda, Ondeng Sofwanudin.

“Kita bertemu dan bersilaturahmi ke tiga tempat, pertama menemui Jaro Urug kemudian ke para Puun disana, dengan tujuan menelusuri sejarah, untuk menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah kampung Urug yang ada di Kecamatan Sukajaya,” ungkap Ondeng Sofwanudin.

Ia menjelaskan, kampung adat Urug adalah salah satu bagian dari sejarah Kabupaten Bogor sangat perlu dilestarikan serta dijaga. Rumah adat itu harus tetap di pertahankan dengan kebijakan lokalnya, sebagai salah satu budaya bangsa.

“Harus kita jaga dan kita lestarikan supaya nanti sampai ke anak cucu kita. Mereka harus mengetahui sejarah ini dengan segala keunikan dan keistimewaan nya,” jelas pria yang juga Kepala Sekolah di SDN Parakan Muncang ini.

Menurutnya, ada kearifan lokal yang di istimewakan di kampung adat Urug, yaitu para Puun terus melestarikan alam. Hal ini sesuai dengan prinsip di dalam kegiatan pramuka yaitu slogan “kita jaga alam dan alam akan jaga kita”.

“Intinya kita tidak boleh merusak alam, ini selaras dengan kegiatan kepramukaan di Dasa Darma, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ini cocok sekali dengan kegiatan Pramuka dan adat kebiasaan di Kampung urug,” ujarnya.

Istimewanya kehidupan Kampung adat Urug, tidak hanya menjaga alam hutan tetapi juga dalam hal kebijakan seperti menanam padi misalnya, mereka mempunyai waktu dan hitungan tertentu dalam penggarapan hasil taninya.

Para sesepuh di Kampung Urug menceritakan, bahwa orang tua kita dulu itu menanam padi dalam satu tahun cukup satu kali, kemudian hasilnya itu di simpan di lumbung padi atau leuit. “Padi – padi yang disimpan itu 30 tahun ke depan akan aman,” bebernya.

“Sesepuh di Kampung Urug juga menceritakan, sejarah Kampung adat Urug sudah sejak dari jaman kerajaan Prabu Siliwangi. Dan jadi salah satu tempat yang pernah disinggahi Prabu Siliwangi,” pungkas Ondeng. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.