PFI Bogor Tempuh Jalur Hukum, Buru Pelaku Tabrak yang Sebabkan Anggotanya Jadi Korban

Tangkapan layar video rekaman CCTV angkot 32 menabrak rumah atau ruko usai terlibat kecelakaan dengan sepeda motor pagi tadi. IST

CIBINONG – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor menempuh jalur hukum usai pelaku tabrak yang menimpa anggotanya yakni Hendi Novian Lesmana tak kunjung ditemukan usai melarikan diri dari rumah sakit.

“Kami sebagai kuasa hukum dari PFI, akan mendampingi saudara Hendi Novian (korban) dalam penanganan perkara ini hingga selesai,” ungkap kuasa hukum PFI Bogor, Dodi Herman, Jumat 19 April 2024.

Hendi yang merupakan seorang fotografer atau wartawan foto dari salah satu media lokal di Bogor itu
menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Pemda, Pangkalan 3, Kampung Tunggilis, RT 001/ RW008, Kelurahan Pasirjambu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Senin 8 April 2024.

Dia menjadi korban kecelakaan usai sepeda motor yang dikendarainya tertabrak oleh sopir angkot 32 yang melaju kencang dari arah Bogor menuju ke Pemda.

Berdasarkan keterangan yang ada, peristiwa berawal saat angkot 32 yang dikendarai Andi Yatman mencoba untuk mendahului kendaraan di depannya dan beralih ke kanan. Pada saat yang sama, dari arah berlawanan, kendaraan Sepeda Motor Honda Beat yang dikendarai oleh Hendi melaju hingga terjadi tabrakan. Bahkan angkot yang dikendarai juga menabrak ruko yang ada di pinggir jalan di kawasan tersebut.

Kecelakaan tak terelakkan. Hingga Hendi mengalami putus jari. Pun dengan sopir mengalami luka hingga dibawa ke Rumah Sakit (RS) FMC pada hari itu.

Namun saat berada di ruang IG RS FMC, sopir angkot 32 yakni Andi melarikan diri tanpa diketahui oleh petugas yang ada di rumah sakit.

Peristiwa ini pun menjadi perhatian tim kuasa hukum dari PFI Bogor. Terlebih hingga saat ini pelaku tabrak tersebut juga belum ditemukan.

“Kami juga akan meminta penjelasan dari pihak rumah sakit (RS FMC) mengenai SOP penanganan jika pelaku dikhawatirkan melarikan diri, karena pelaku sempat dibawa ke IGD setelah kejadian,” jelas Dodi.

Selain menuntut penegakan hukum kepada pelaku yakni sopir angkot 32 bernama Andi Yatman sesuai dengan UU no 22 tahun 2009 dan KUHP, Dodi juga akan mempertimbangkan gugatan hukum perdata terhadap perusahaan pemilik angkutan umum yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.

“Kami telah berdiskusi dengan klien beserta keluarganya, dan gugatan hukum perdata sangat dimungkinkan dilakukan,” jelasnya.

Menurutnya, keputusan ini diambil karena belum adanya tindakan yang menunjukkan itikad baik dari perusahaan pemilik angkutan umum tersebut kepada korban, sesuai dengan Pasal 234 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009.

“Walaupun perusahaan telah mendatangi rumah sakit, namun belum ada alasan logis yang diterima oleh klien kami terkait penyelesaian masalah ini,” papar Dodi.

Korban juga menyatakan bahwa tidak ada perwakilan dari perusahaan yang bertanggung jawab datang ke rumah sakit selama kejadian dan proses operasi.

“Jika dalam minggu ini tidak ada komunikasi, kami akan mengirimkan surat somasi dan melanjutkan dengan gugatan,” tegasnya. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.