Perusahaan Bangkrut, Bapenda Cianjur Tarik Tapping Box

CIANJUR – Akibat mengalami kondisi penurunan pendapatan keuangan atau financial distressed, sejumlah tempat usaha yang merupakan wajib pajak (WP), akhirnya harus menyerahkan kembali tapping box atau alat rekam transaksi elektronik kepada pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur. Pasalnya, kondisi tersebut dipicu menurunnya pendapatan alias kolep.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Cianjur melalui Kepala Bidang (Kabid) Penagihan Pajak Daerah Bapenda Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan hingga sampai saat ini sudah terpasang sebanyak 190 unit tapping box di berbagai tempat usaha. Namun, ada beberapa di antara tempat usaha yang alat tapping box harus dicabut karena berbagai pertimbangan.

“Memang dari sebanyak 190 unit tapping box yang sudah kita pasang, sebanyak 14 unit sudah kami cabut. Jadi sampai saat ini yang terpasang sebanyak 176 unit tapping box,” kata Samudra, Kamis (6/6/2024).

Samudra mengaku pencabutan alat tapping box pada beberapa wajib pajak di sejumlah tempat usaha itu didasari pertimbangan situasi dan kondisi. Artinya, ada beberapa wajib pajak yang menutup tempat usaha mereka. “Jadi, alat tapping box-nya tak dipakai lagi. Untuk tahun ini belum ada penambahan lagi alat di tempat-tempat usaha,” ungkapnya.

Dia menjelaskan pemasangan tapping box di tempat-tempat usaha merupakan implementasi dari Monitoring Center for Prevention (MCP) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pengadaan alat tapping box disediakan pihak perbankan, dalam hal ini bank bjb. “Keberadaan tapping box ini tentu membantu kami mengecek sampai sejauh mana pendapatan yang diperoleh di setiap tempat usaha,” ujarnya.

Pengecekan tersebut, lanjut Samudra, tentunya berkaitan dengan pelaporan pajak daerah dari setiap tempat usaha. Intinya, tapping box merekam setiap transaksi yang tercatatkan secara elektronik. “Makanya setiap transaksi dan omzet yang pajaknya ditarik oleh kami bisa terpantau. Sekaligus juga tapping box ini membantu para owner tempat usaha memantau pendapatan yang diperoleh karena tidak bisa dibohongi,” tergasnya.

Menurutnya, tidak semua tempat usaha dipasangi alat tapping box. Sebab, perlu dilihat terlebih dulu potensi pendapatan dan omzet di setiap tempat usaha tersebut. “Apabila memang potensi pendapatannya kecil atau tidak ramai, tidak perlu dipasang alat tapping box. Tapi memang idealnya tapping box ini dipasang di semua sektor usaha. Sejauh ini tempat usaha yang paling banyak dipasang tapping box yakni rumah atau tempat makan, kafe, dan sejenisnya. Kemudian hotel dan lainnya,” pungkasnya. BNM/NDI/SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.