Diisukan Hilang, Ternyata Topeng Emas Pasir Angin Yang Asli Masih Ada di Pusat Arkeolog Nasional

LEUWILIANG – Topeng emas peninggalan masyarakat Purbakala yang berhasil ditemukan pada Eskavasi (penggalian) tahun 1970, 1971, 1972, 1973, 1975 oleh Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) pimpinan R.P. Soejono di Kampung Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, yang pernah di isukan hilang, ternyata masih tersimpan utuh dan aman di kantor Balai Pusat Penelitian Arkeologie Nasional di Jakarta.

Isak Tumitir kordinator Juru Pelestari Kabupaten Bogor dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang, Banten, mengatakan, Topeng Emas milik masyarakat Purbakala Pasir Angin di Pesisir Cianteun yang hidup sekitar 3000 tahun Sebelum Masehi (SM) sampai 1000 tahun Sebelum Masehi (SM) yang diperoleh dari hasil Eskavasi pada tahun 1973, merupakan Artevak berharga yang tak ternilai harganya.

“Topeng emas itu, dahulunya dipakai untuk keperluan ritual, atau tepatnya sebagai sesajen, karena berbarengan dengan temuan topeng emasnya, disekitar galiannya juga ditemui banyak benda benda yang biasa digunakan untuk keperluan sesajen,”.kata Isak Tumitir Kordinator Juru Pelestari Kabupaten Bogor dari BPCB Serang Banteng kepada pakuanraya.com.

Karena Topeng tersebut terbuat dari emas murni 24 karat sambungnya, akhirnya pihak Puslitarkenas berinisiatif memboyongnya ke Jakarta untuk dijaga keamanannya agar tidak hilang dan terhindar dari tangan para pencuri. “Kini lokasi temuannya sudah menjadi Museum yang diresmikan tahun 1976 sekaligus menjadi tempat penyimpanan seluruh hasil temuan eskavasinya, seperti topeng Emas yang di temukan 1973 disebelah barat daya batu monolite di kedalaman 1,2 meter, kemudian kapak perunggu dan kapak batu,” beber Isak.

Sejujurnya lanjut dia, Pihak situs Pasir Angin sangat menginginkan agar topeng emas tersebut di tempatkan kembali dimuseum Pasir Angin. “Namun karena resiko keamanannya yang cukup tinggi, sehingga kami tidak mungkin mampu menjaga keamanannya,” ujarnya.

Ketika disinggung soal keberadaan sebuah Tugu Kamikaze Jepang yang berdiri di sisi sungai Cianteun yang keberadaanya terbengkalai, Isak Tumitir membenarkan, tetapi sayangnya kata Isak, ia bukanlah sang juru pelestarinya. “Agar diketahui, dulu dilokasi ini merupakan Medan pertempuran antara tentara jepang dengan sekutu yang berlangsung selama 2 hari 2 malam. Selain itu, perang tersebut juga merupakan perang paling terlama karena berlangsung dalam keadaan hujan lebat dengan aliran sungai yang sedang banjir,” bebernya.

Makanya tambah Isak Tumitir, Tugu KamiKaze ini dibangun untuk dijadikan bukti pernah terjadinya pertempuran besar yang banyak merenggut nyawa tentara jepang. “Sehingga Tugu Kamikaze yang didirikan oleh veteran perang asal Jepang bekerjasama dengan kantor kedutaan Jepang tersebut, adalah untuk menghormati arwah para tentara Jepang yang gugur yang berjumlah ratusan orang,” pungkasnya. (MG3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.