Penyebab Banjir, Marak Lahan Hijau Beralih Fungsi Jadi Bangunan Beton di Cipanas Cianjur

Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno bersama pejabat Forkopimcam Pacet sedang membuat lubang biopori. Esya | Pakar

CIANJUR – Diduga akibat banyak beralihnya fungsi lahan menjadi bangunan dikawasan wilayah utara akhirnya kerap memicu terjadi banjir disaat datangnya musim hujan. Pasalnya hingga saat ini, kondisi limpasan air tidak dapat menyerap air hujan.


Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno, membenarkan jika diwilayah Kecamatan Cipanas, Pacet dan Sukaresmi tersebut, relatif cukup banyak berdiri bangunan. Secara otomatis, berdirinya bangunan tersebut bisa menyebabkan air kadang tidak terserap tanah.


“Memang dikawasan Kecamatan Cipanas, Pacet, dan Sukaresmi sudah banyak berdiri bangunan-bangunan. Sehingga berpotensi terjadi banjir akibat airnya banyak tidak terserap ke dalam tanah. Untuk itu sebagai antisipasi terjadinya banjir dilakukan pengelolaan sampah, terutama yang ada di drainase-drainase agar aliran air tak tersumbat,” kata Sugeng kepada wartawan usai kegiatan gerakan pembuatan lubang biopori di halaman kantor Kecamatan Pacet, Rabu (14/6/2023).


Menurutnya, sebagai antisipasinya dengan cara membuat lubang biopori, seperti yang dilakukan di halaman kantor Kecamatan Pacet di Desa Cipendawa. Gerakan pembuatan lubang biopori dilakukan sebagai rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus juga Hari Jadi Cianjur ke-346.


“Sebetulnya pembuatan lubang resapan biopori ini rutin dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup. Nah, kali ini kita laksanakan di Desa Cipendawa Kecamatan Pacet dan di Desa Cibodas Kecamatan Cipanas. Ini bagian dari program Go Green untuk penghijauan atau mencegah kerusakan lingkungan,” terangnya.


Dia mengaku kegiatan pembuatan 100 lubang biopori yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik masyarakat, pemerintah desa, perusahaan, pelaku usaha, termasuk perkantoran maupun lingkungan pendidikan. “Pembuatan lubang biopori ini bukan hanya di median tanah. Tapi bisa juga dibuat di median yang sudah tertutup seperti cor beton atau aspal. Jadi, tidak ada alasan tidak bisa membuat lubang biopori,” katanya.


Sementara itu, Camat Pacet Yudi Suhartoyo menambahkan, kondisi lingkungan di wilayahnya sudah mengalami banyak perubahan. Karena itu, tugas pemerintah dan masyarakat bisa menjaganya agar tak terjadi degradasi. “Sebetulnya, Kecamatan Pacet ini salah satu wilayah sumber air karena berdekatan dengan kawasan pegunungan. Nah, tugas kita bisa menjaga kondisi alam dan lingkungan karena sudah banyak perubahan karena aktivitas manusia,” kata Yudi.


Misalnya, lanjut Yudi, aktivitas pembangunan yang dikhawatirkan akan berdampak terhadap cadangan air. Sebab, dengan berdirinya banyak bangunan, maka resapan air jadi berkurang. “Kami pun sangat berterima kasih atas inisiasi dari DLH serta para perusahaan yang membuat lubang biopori sekaligus berfungsi sebagai tempat sampah organik. Ini jadi salah satu solusi alternatif untuk menangani kondisi lingkungan,” pungkasnya. NDI/SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.