Penanganan Masih Buruk, Anak dan Menantu Rawat Sendiri Ibu yang Terpapar Covid-19

CIBINONG – Penanganan Covid-19 di Kabupaten Bogor masih jauh dari harapan. Salah satunya dirasakan seorang perempuan berusia 60 tahun di Desa Bantarjaya, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor.

Sejak dinyatakan positif Covid-19 hasil daripada Swab PCR di salah satu rumah sakit pada Senin malam 11 Januari 2021, keluarga mulai dari anak, menantu, hingga cucu dari perempuan yang enggan namanya disebutkan itu, sudah mendapatkan tracing.

Tracing dari tim Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor itu memberikan fasilitas swab PCR kepada anak, menantu, hingga cucu pada 12 Januari 2021.

Namun setelah itu, perempuan bersama keluarga harus berjuang sendiri. Nur Arifin, menantu dari perempuan tersebut mengatakan, sejak penanganan tracing dilakukan, tidak ada satu pun petugas kesehatan yang datang untuk memeriksa kondisi ibu mertuanya itu.

“Sudah satu minggu lebih gak ada penanganan. Gak ada petugas yang datang. Bahkan sejak awal (positif) keluarganya harus mencari dokter sendiri untuk cek kesehatan,” kata Arifin kepada PAKAR, Selasa (19/1/2021).

Dengan kondisi yang terbatas, Arifin beserta istri dan anaknya yang dinyatakan negatif Covid-19 hasil dari swab PCR dari Satgas beberapa waktu lalu itu, kini harus merawat ibu mertuanya.

Awalnya dia mengaku sedikit lega karena sudah mendapatkan penanganan dari Satgas Covid-19. Asumsinya, kata dia, dengan telah masuknya data-data keluarga ke Satgas Covid-19, maka bisa diteruskan ke tingkat kecamatan dan desa yang kemudian untuk ditindaklanjuti.

“Sekarang kalau nunggu dari puskemas itu gak datang-datang. Saya lapor sudah, koordinasi sudah. Dari yang kondisi ibu mertua gak bisa bangun sampai sekarang sudah cukup segar, gak ada juga di tingkat bawah yang nyentuh,” jelas Arifin.

Sebelumnya, tidak maksimalnya penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor juga telah dievaluasi Bupati Ade Yasin.

Bupati saat itu mengambil langkah tegas dengan membentuk Satgas Penanganan Covid-19. Langkah ini dilakukan untuk memaksimalkan tugas pemerintah menekan angka kasus yang setiap harinya mengalami peningkatan.

Ade Yasin menjelaskan, pembentukan Satgas merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Lalu juga berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 440/5184/SJ tentang Pembentukan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Daerah.

“Sehingga kita perlu membentuk Satgas Covid-19 yang menggantikan Gugus Tugas percepatan penanganannya. Mulai tingkat kabupaten, kecamatan hingga keluarga atau desa,” jelasnya, Senin (5/10/2021).

Dia menegaskan, pembentukan Satgas ini bukan sekedar mengganti nama. Tetapi ada pesan khusus dimana Pemerintah harus lebih serius menangani pandemi yang secara nasional mengalami peningkatan yang cukup siginifikan.

Selain itu, Satgas diharapkan bisa mempercepat proses perencanaan sampai pelaporan yang lebih terintegrasi mulai tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan sampai desa bahkan tingkat lingkungan.

“Koordinasi lintas vertikal diharapkan lebih maksimal sehingga mempercepat penanganan pandemi ini. Saya harap re-organisasi ini menjadi bekal bagi kita untuk lebih meningkatkan koordinasi,” tegas Ade Yasin. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.