Pembangunan Wahana Wisata PT Jaswita di Kawasan Puncak, Dikhawatirkan Merusak Alam dan Lingkungan

CISARUA – Proyek pembangunan wahana wisata di kawasan Puncak, Cisarua, yang dilakukan oleh PT Jaswita, menuai sorotan dan pro kontra dari masyarakat dan berbagai pihak. Eksploitasi pengrusakan kawasan hijau di Puncak saat ini semakin marak terjadi. Lahan kebun teh dihancurkan untuk kepentingan pembangunan komersial. Hal itupun membuat kekhawatiran sejumlah pihak, bahwa pembangunan disana akan merusak lingkungan dan kelestarian alam di Puncak yang terkenal dengan cuaca dingin dan memiliki pemandangan eksotis tersebut.

Dampak pembangunan di kawasan Puncak yaitu terjadinya alih fungsi lahan, seperti proyek wahana wisata milik PT Jaswita yang berada di Kampung Pensiunan, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua. Dengan luas lahan sekitar 16 hektare, diketahui lahan milik PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN) yang dikerjasamakan oleh BUMD Provinsi Jawa Barat itu, saat ini pembangunan tengah berjalan.

Kepala Dusun Desa Tugu Selatan, Muhammad Asep mengatakan, Jaswita Jabar mulai melakukan pembangunan di lahan tersebut sejak pertengahan 2023 lalu. Rencananya, di lahan tersebut akan dibangun sejumlah wahana permainan hingga agrowisata.

“Sampai sekarang masih progres pembangunan, dan rencananya selesai sekitar dua bulan lagi sebelum beroperasi,” ungkapnya di lokasi pembangunan, Kamis (06/06).

Asep sendiri merupakan salah satu dari 325 warga yang dilibatkan oleh pihak ketiga dalam pembangunan objek wisata tersebut. Dia tidak menampik, banyak publik yang menilai negatif tentang pembangunan yang dilakukan oleh PT Jaswita Jabar di Kawasan Puncak.

Namun dia mengaku cukup bersyukur dengan adanya pembangunan tersebut. Selain melibatkan tenaga kerja lokal, pihak perusahaan juga telah menyediakan fasilitas sarana air bersih ke warga sekitar lokasi pembangunan. “Kalau di media sosial mungkin berfikir kerusakan lingkungan, tapi kami yang di lapangan tidak ada masalah. Bahkan manajemen Jaswita juga akan menghijaukan lagi lahan-lahan yang dikelola,” akunya.

Sementara itu, Anggota Karukunan Wargi Puncak (KWP), Dede Rahmat mengatakan, dalam mega proyek tersebut banyak masyarakat yang dikorbankan akibat pembangunan kawasan wisata tersebut baik dari kerusakan lingkungan dan menurunnya suhu udara di Puncak.

“Berapa banyak pohon yang ditebang oleh perusahaan dari pembangunan itu. Sementara semakin banyak warga Puncak yang mulai merasakan dampak dari menurunnya kualitas udara,” tuturnya.

Dalam pembangunan tersebut dirinya menyoroti pihak terkait salah satunya PTPN VIII yang lalai menjaga ekosistem perkebunan teh di kawasan Puncak. “Bukan hanya bicara Jaswita, tapi semua perusahaan yang tengah mengeksploitasi Kawasan Puncak. Saat ini ada sebanyak 33 perusahaan yang mengelola seluas 250 hektare lahan perkebunan,” tegasnya. FIR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.