Parah, Ramaja di Bogor Punya Hobi ‘Budidayakan’ Seks Bebas

Lekas melakukan obssrvasi ke salah satu tempat hihuran malam. (Dok.Lekas)

CIBINONG – Kasus HIV-AIDS di Kabupaten Bogor, setiap tahunnya cenderung meningkat. Mirisnya, penyebab meroketnya kasus ini adalah pergaulan seks bebas yang dilakukan oleh pasangan usia produktif rentang 17 hingga 30 tahun.

Ketua Yayasan Lembaga Kajian Strategis (Lekas) Muksin Zaenal Abidin mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor peningkatan kasus HIV-AIDS dimulai saat pandemi Covid-19 pada 2020, saat itu jumlah penderita mencapai 420 orang.

Kemudian pada 2021 meniningkat menjadi 428 orang dan lpada 2023 kasusnya melonjak hingga 747 kasus.

“Kasus HIV-AIDS secara umum disebabkan dua faktor, yang pertama melalui pertukaran darah, misal menggunakan narkoba suntik dan faktor kedua melalui transmisi seksual cairan perempuan seks bebas,” kata Muksin kepada PAKAR.

Di Kabupaten Bogor sendiri, dia menjelaskan, angka kasus terbanyak melalui transmisi seksual yang paling banyak saat ini yaitu seks bebas di kalangan remaja.

“Ketika semakin digalakkan melalui tes HIV-AID seperti fenomena gunung es, dalam artian permasalahan yang terlihat hanya sedikit, sedangkan pada kenyataannya ada banyak sekali masalah di bawahnya,” ucapnya.

Karena itu, Muksin nelanjutkan, melihat tingginya kasus HIV-AIDS, Lekas mendesak Pemkab dan DPRD Kabupaten Bogor agar lebih serius dalam menanggapinya.

Keduanya diharapkan bisa melakukan antisipasi dan pencegahan melalui intervensi kebijakan, karena peringkat Kabupaten Bogor terbanyak nomor dua setelah Kotq Bandung.

“Kasus HIV-AIDS sekarang lebih banyak menyentuh usia produktif dengan seks bebasnya. Menurut Dinkes Jawa Barat kasus HIV-AIDS bagaikan fenomena gunung es dan akan ketemu di masyarakat ketika digalakkan nanti. Akan ketemunya setelah satu atau dua tahun melalui tes,”  tandasnya.

Adapun langkah yang dilakukan Lekas, Muksin menambahkan, bersama Dinkes melakukan teknis layanan dan teknis medis.

Selain itu rutin melakukan sosialisasi kepada komunitas-komunitas dan memberikan pendampingan kepada korban, seperti akses obat, konseling dan motivasi psikologinya. “Karena yang positif HIV-AIDS itu jiwanya labil,” katanya.

Dinkes Kabupaten Bogor, mencatat angka kasus positif HIV – AIDS terus meningkat setiap tahun.

Pada 2021, tercatat sebanyak 430 kasus positif HIV dari jumlah tes skrining 55.635 orang. Kemudian jumlahnya meningkat di 2022 sebanyak 747 kasus dari tes 87.148 orang.

Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bogor, Adang Mulyana menyebut, jumlah kasus positif bergantung pada cakupan skrining yang dilakukan di masyarakat.

“Semakin luas jangkauan skrining, semakin banyak jumlah temuan kasus positif HIV setiap tahunnya,” katanya, saat itu.

Skrining sebagai upaya untuk menanggulangi HIV agar tidak meluas di tengah masyarakat.

Saat ini semua puskesmas di Kabupaten Bogor telah memiliki fasilitas untuk melakukan tes skrining HIV. =DIT/MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.