Minim Rambu dan Banyak U-Turn, Arus Lalin Jalan Nasional Kemang Parung Macet Parah

Kemacetan kerap terjadi di jalan raya Kemang Parung yang merupakan salah satu jalan utama kelas nasional. Fahri| Pakar

KEMANG – Keberadaan jalan raya merupakan salah satu infrastruktur penting dalam setiap wilayah. Salah satu fungsi utama dari jalan adalah untuk menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya, sehingga semua aktifitas masyarakat dapat berjalan lebih cepat, efektif dan produktif.

Namun tujuan dari adanya jalan raya tersebut tidak selalu sesuai dengan harapan. Seperti contoh, kemacetan lalu lintas yang cukup parah dan seringkali terjadi di jalan raya nasional Kemang Parung.

“Kalau akhir pekan dan hari libur, seringkali macet parah. Begitupun saat hujan deras turun, badan jalan tertutup air jadi macet. Hari biasa saat jam sibuk (pagi atau sore) juga sering macet. Jadi bukan efisiensi waktu yang didapat, tapi malah teelambat,” cetus Muhammad Daud (38) warga salah satu komplek perumahan di Kecamatan Kemang, Rabu (31/3/2021).

Hal senada diungkapkan Arifin, warga Kecamatan Parung yang bekerja di salah satu instansi di Kota Bogor. Ia menuturkan, setiap pagi berangkat bekerja atau pulang pada sore harinya, selalu ada saja hambatan kemacetan ketika dirinya melintas di jalan nasional tersebut.

“Dari yang saya liat setiap hari, pemicu kemacetan itu adalah kurangnya rambu lalu lintas dan terlalu banyaknya titik putar arah (U-turn) di jalan raya Kemang Parung,” bebernya.

Untuk diketahui, jalan raya Kemang Parung merupakan salah satu jalur jalan nasional di Kabupaten Bogor. Pengelolaan sarana dan prasarana perhubungan di jalan ini sudah pasti menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui kementerian, dalam hal ini Kementerian Perhubungan.

E. Swandana, seorang pengamat kebijakan publik yang juga dosen PTS di Depok mengatakan, sudah seharusnya Kemenhub memberikan perhatian terhadap pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana perhubungan di jalan raya Kemang Parung.

“Kalau jalan nasional seharusnya dikelola secara ebih profesional. Jangan sampai jalannya kelas nasional, tapi sarana prasarana perhubungannya seperti jalan lokal,” tandas Swandana, yang tinggal di kawasan Kecamatan Parung. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.