Menunggu Pilihan ‘Hambalang’

Redaktur Pelaksana Harian PAKAR, Roy Andi. IST

Sangat beralasan jika di pemilihan kepala daerah (Pilkada) di semua wilayah yang ada, Partai Gerindra menjadi rebutan oleh hampir calon kepala daerah, termasuk di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bogor.

Di Kota Hujan ini saja, tercatat ada delapan orang yang mendaftar untuk menjadi Cawalkot Bogor dari Gerindra, seperti Dokter Raendi Rayendra, Farhat Abbas, Dedie A Rachim, Sendi Fardiansyah, Eka Maulana, Aji Jaya Bintara, Jenal Mutaqin dan terakhir Sopian Ali Agam.

Diketahui, ada dua internal kader Gerindra yakni Jenal Mutaqin serta Sopian Ali Agam ikut ‘bertarung’ untuk mendapatkan restu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Sosok Prabowo yang juga terpilih sebagai Presiden RI pada pilpres yang digelar pada Februari 2024 lalu, tentu menjadi magnet untuk kader atau non kader, untuk mendaftar dan mendapatkan partai berlogo Garuda ini sebagai pengusung maupun pendukung di pilkada serentak November mendatang.

Jika 10 tahun terakhir, urusan pilkada ini selalu mengandalkan ‘Jokowi Effect’.

Namun, di 2024 ini hal tersebut diduga tak akan terlalu laku dijual meski saat ini masih menjabat sebagai Presiden Indonesia.
Penyebabnya, pelaksanaan pilkada serentak yang akan jatuh pada bulan November. Kemudian, pergantian presiden akan terjadi di tanggal 20 Oktober.

Tentu, hal ini dapat membuat preferensi politik pemilih dapat berubah total. Ingat, bisa saja nanti figur sentral untuk pilkada bukan lagi Jokowi tapi Prabowo.

Bukan hal yang tidak mungkin, ke depan pemilih akan lebih ‘berat’ pada calon yang terasosiasi atau ‘dipilih’ oleh Prabowo.

Imbasnya, Prabowo effect lah yang akan menjadi dominan daripada Jokowi, dan ini bisa saja terlihat satu atau dua minggu setelah Prabowo dilantik.

Dan apakah pengaruh Jokowi akan langsung redup. Tentu saja, hal tersebut belum bisa dipastikan karena untuk kondisi saat ini atau jelang 3 bulan pensiun.

Sosok Jokowi masih ‘disayangi’ oleh rakyat serta pemilihnya. Hal itu bisa dilihat, dari tingkat kepuasan kepada pemerintahan saat ini masih tinggi.

Jokowi effect mungkin masih ada. Tapi, perlahan ‘kekuatan’ itu bakal terkikis dengan sendirinya setelah Prabowo jadi presiden.

Dan kaitannya di Kota Bogor dimana sejak pilkada langsung dilakukan selalu menjadi titik perhatian dan strategis. Apakah Gerindra akan ‘rela’ memberikan rekomendasinya kepada calon dari luar partai.

Atau akan mencoba kadernya sendiri untuk maju menjadi calon wali kota (Cawalkot) Bogor dengan modal enam kursi DPRD. Tinggal melakukan koalisi dengan partai lain agar bisa mencukupi syarat untuk menjadi 10 kursi DPRD.

Nah, sekarang kita tinggal menunggu saja pilihan ‘Hambalang’ (Prabowo Subianto) untuk Pilwalkot Bogor restunya akan jatuh ke kader sendiri, ke sosok eksternal partai yang sudah mendaftar atau ke sosok ‘misterius’ lain yang sebelumnya tidak pernah muncul dan tidak disebut-sebut akan maju di pilwalkot.(*)

Penulis:

Roy Andi

Redaktur Pelaksana Harian PAKAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.