Membangun Desa, Asep Memilih Menjadi Petani Milenial

Sang penggagas budidaya buah nanas, Asep sedang foto bersama keluarga dan aktivis usaha di area kebun nanas miliknya, di Desa Sukajaya, Kec. Tamansari, Kab. Bogor, Senin [25/10/2021]. Kebun nanas yang dikelolanya sudah berjalan 10 tahun. Andrey | Pakar

TAMANSARI- Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, saat ini mulai menjadi wilayah penghasil salah satu komoditas buah unggulan ekspor. Di desa ini terdapat budidaya tanaman nanas, pengelolaan dan cara pengendalian hama, serta penyakit tanaman nanas.

Asep Katar, sang penggagas budidaya buah nanas, di Desa Sukajaya mengungkapkan, kebun nanas yang dikelolanya sudah berjalan 10 tahun.

“Setelah sekian tahun kerja di Bali, saya putuskan kembali ke desa dan bersama orang tua membudidayakan nanas,” jelasnya saat ditemui PAKAR, Senin [25/10/2021].

Perkebunan nanas miliknya dikenal sekitar awal 2018, dan waktu itu hanya melibatkan keluarga saja, di mana mereka punya peran masing-masing dalam pengelolaan kebun nanas berlabel Abah Pineapple Farm tersebut.

Asep yang juga Ketua Karang Taruna, Kecamatan Tamansari itu menuturkan, keinginannya mengembalikan identitas dan kejayaan petani di masa lalu. Itu, karena dia melihat potensi dan memegang prinsip ‘kalo tidak kita sendiri atau pemuda desa siapa lagi yang akan membangun desa?’.

Alasan lainnya, dia melihat kebanyakan masyarakat bertani dan berkebun hanya sebagai penggarap saja, hasilnya hanya upah garap dari pemilik lahan. “Ini yang harus kita ubah, yaitu para petani bisa menikmati hasil panennya sendiri,” ujar Asep.

Dan, setelah berjalan sampai saat ini, tambah Asep, dirinya bersama warga mencoba berusaha sendiri alias belum dapat bantuan dari dinas atau instansi terkait. “Kini kami masih dalam proses pengurusan untuk pembentukan Gapoktan [Gabungan Kelompok Tani],” ujarnya.

Sektor pertanian ini sendiri memang tantangan sangat besar, khususnya milenial. Oleh karena itu, kami sedang perkuat untuk jadi contoh nyata yang dapat diikuti kaum muda milenial. Nantinya kaum muda dapat melihat upaya Asep dan warga petani lainnya di kebun yang dikelola mereka saat ini.

Untuk itu, Asep mencanangkan 4M yaitu, Merawat, Mengelola, Memasarkan dan Membranding tempat ini ke depan bagaimana untuk menjadi agrowisata yang punya daya tarik tersendiri.

“Sejauh ini, alhamdulillah lahan ini sudah didatangi para mahasiswa dari IPB, Universitas Padjadjaran, Universitas Pakuan, yang melakukan observasi dan belajar disini,” ungkapnya.

Disinggung tentang kendala dihadapi, adalah ketika ada penawaran dan menawarkan ke para tengkulak dengan daya beli yang murah. Karenanya, kini Asep mencoba memasarkan nanas ini melalui sosial media.

“Kami tawarkan dan pasarkan ke teman-teman komunitas, organisasi, dan sosial media, bahkan pelaku UMKM [Usaha Mikro Kecil dan Menengah,” tambahnya.=NDR/URI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.