Melihat Komunitas Hutan Organik, Lahan Kritis Disulap Menjadi Hutan Mini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

MEGAMENDUNG – Lahan kritis di kawasan Puncak yang sempat gundul kini sudah terlihat hijau. setelah puluhan tahun upaya rehabilitasi tersebut berlangsung di area yang berada di ketinggian 650 hingga 700 meter dari permukaan laut dengan kemiringan lereng sangat bervariasi datar sampai terjal berkisar 30 hingga 60 derajat, telah membuahkan hasil.

Lokasi yang merupakan DAS hulu Sungai Ciliwung dari Sungai Ciesek itu terlihat layaknya hutan mini. Ketua Hutan Organik, Yuhan Subrata mengatakan, belajar dari alam adalah kata kunci dalam rehabilitasi ekosistem ini, sehingga hutan alam adalah model yang harus ditiru, dimana hutan alam terbentuk bukan karena pupuk kimia tetapi oleh bahan organik, sehingga seluruh kegiatan percobaan baik pertanian, peternakan, hanya menggunakan cara organik.

Selain kelestarian lingkungan tercipta, keberadaan hutan mini tersebut juga berpotensi meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar, yang terlibat dalam pengelolaan dan upaya rehabilitasi tersebut.Sebab, berbagai pohon keras yang ditanam memiliki nilai jual yang tinggi. Begitu pun dengan tanaman hortikultura, yang juga memiliki nilai jual yang baik. 

“Untuk pohon keras memang memakan waktu yang relatif lama, sekitar lima hingga 12 tahun baru bisa dijual. Tetapi, untuk tanaman hortikultura yang kami tanam secara tumpang sari bisa dipanen, dan menghasilkan nilai ekonomi dalam waktu sekitar enam bulan saja,” kata Yuhan, Sabtu (16/1/2021).

Salah satu alasan pentingnya pengembangan pertanian organik adalah persoalan kerusakan lahan pertanian yang semakin parah. Penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus menjadi penyebab menurunnya kesuburan lahan bila tidak diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati. MAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.