Marak Terjadi Kasus Kenakalan Remaja, Ini Kata Bupati Cianjur

Saat Bupati Cianjur Herman Suherman membacakan sumpah dan jabatan bagi kalangan guru P3K yang diberikan SK. Esya | Pakar

CIANJUR – Akhir-akhir ini marak terjadi peristiwa kenakalan remaja di wilayah Kabupaten Cianjur. Hal itupun menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur. Bupati Cianjur Herman Suherman mengaku jika saat ini segelintir kalangan pelajar di Kabupaten Cianjur terkena kasus kenakalan remaja. Hal itu merupakan degradasi akhlak. Karena sejumlah kasus fenomena sosial, beberapa di antaranya melibatkan kalangan pelajar. Sehingga harus berurusan dengan hukum.


Menyikapi kondisi sosial tersebut, kata H Herman, beberapa kali momen, dirinya harus menyempatkan diri bertemu dengan kalangan guru maupun orang tua siswa. “Hal ini, memang harus dilakukan agar ada kolaborasi antara guru dan orang tua. Artinya, orang tua jangan terlalu mengandalkan pihak sekolah karena waktunya hanya 1/3. Paling banyak atau 2/3 itu waktu anak ada di rumah. Tentunya pengawasan orang tua yang harus ketat,” tegas Herman kepada awak media usai memberikan SK P3K kepada guru.

Menurutnya, guru juga harus bisa menginformasikan rekam jejak anak didik ke setiap orang tua. Sehingga, ketika orang tua mengetahui rekam jejak anak mereka, maka akan meningkatkan pengawasan. “Kalau kolaborasi itu terwujud, saya yakin akhlak para pelajar di Cianjur akan semakin kuat,” ujarnya.


Dia menegaskan salah satu upaya menjaga akhlak para kalangan pelajar, sebut Herman, pihak sekolah disarankan menambah jam pelajaran agama. Setidaknya dengan bekal ilmu keagamaan, para pelajar bisa ‘mengerem’ melakukan perbuatan-perbuatan tercela. “Sekarang lihat, mereka (pelajar) itu sudah jadi geng motor, tawuran. Memang hanya segelintir, tapi kan orang menilainya general. Ini yang harus kita perbaiki bersama-sama,” tegasnya.


Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Akib Ibrahim, mengatakan penambahan jam pelajaran agama merupakan muatan lokal. Tujuannya untuk meningkatkan pendidikan karakter sehingga linear dengan konsep merdeka belajar.


“Jadi, merdeka belajar itu bagaimana melahirkan profil pelajar pancasila. Pertama beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dalam hal ini pak bupati ingin mendorong peningkatan pendidikan keagamaan,” terangnya.


Saat ini, lanjut Akib jam pelajaran agama selama dua jam. Penambahannya bisa didorong menjadi empat jam. “Nanti penambahannya masuk pada mulok (muatan lokal),” pungkasnya.NDI/SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.