Manager Dana Bos Terlibat Penyelewengan Buntut Kasus SMP Technology 25

Kondisi KBM Fiktif di SMP Tekhnology 25. Age|Pakar

CIBINONG – Sejumlah pihak salah satunya Aktivis Bogor menyoroti kasus SMP Technology 25 terkait penyelewengan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) fiktif. Bahkan, aktivis itu pun menyebut kalau Meneger Dana Bos di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor terlibat dalam penyelewengan.

Hal itu disampaikan oleh Aktivis Bogor, Ali Topan Vinaya bahwa bukan hanya pihak sekolah, namun Manager Bos pun terindikasi terlibat dalam kasus penyelewengan dana bos buntut dari kbm fiktif di SMP Technology 25. “Dinas itu menerima laporan dan ketika dinas menerima laporan, apakah sudah meroscek atau tidak, nah artinya dinas selama ini tidak meroscek ke sekolah tersebut. Jadi ada kejaksaan dan kepolisian memanggil orang-orang yang terlibat, baik itu Maneger Dana Bos di Dinas Pendidikan maupun pihak sekolah,” katanya kepada PAKAR, pada Kamis 30 Mei 2024.

Ia meminta ke aparat penegak hukum untuk menindak lanjuti kasus tindak pidana korupsi di SMP Technology 25 yang berlokasi di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor itu. “Sudah masuk ke tanah hukum, artinya tindakan menstrea terkait masalah korupsinya sangat kental. Apa lagi sudah dua tahun melaksanakan kbm fiktif tetapi tetap dialiri dana bos puluhan juta,” ungkapnya.

Ia juga menyebut pasti ada kerja sama pihak sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. “Sepertinya ada kerja sama (kongkalikong) yang dilakukan antara pihak sekolah, karena bagaimana apapun dinas itu sebagai tangan panjang kemendikbud yang menyalurkan dana tersebut ke pihak sekolah dan dinas itu,” imbuhnya.

Pemberitaan sebelumnya SMP Global Tekhnology 25 diduga melakukan manipulasi data pokok pendidikan (dapodik) demi meraup keuntungan, agar terus dialiri dana BOS (bantuan operasional sekolah) senilai puluhan juta pertahun. Padahal, SMP swasta yang berlokasi di kampung Bojong Kopi, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor sudah bertahun-tahun tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dikarenakan tidak memiliki peserta didik.

Bahkan informasi dari warga setempat, SMP Global Tekhnology 25 tersebut rupanya tidak memiliki bangunan alias menumpang kepada bangunan sekolah lain yakni Madrasah Al-Hidayah. Dan parahnya keberadaan SMP Global Tekhnology 25 juga bukan memberikan manfaat pendidikan yang berkualitas, tetapi malah merugikan warga setempat, salah satunya terdapat sejumlah siswa yang telah menyelesaikan pendidikan namun sampai saat ini belum menerima ijazah.

Ketua RT setempat, Hendi menyampaikan bahwa SMP Global Tekhnology 25 tidak beroperasi sudah sejak lama. “SMP ini sudah ga aktif, sudah lama banget. Dan bangunan sekolah ini numpang ke sekolah lain milik madrasah al hidayah, jadi dia ini ga punya bangunan sekolah,” katanya kepada PAKAR.

Lanjut ia mengatakan bahwa dirinya sering menerima kabar kalau sekolah tersebut kerap kali menerima dana BOS dari Dinas Pendidikan, meskipun tidak memiliki peserta didik. “Dana BOS ngalir terus, sedangkan kita warga disini melihat kalau kondisi sekolah itu sepi terus. Akibatnya, saya kemarin dipanggil ke Kecamatan Cijeruk untuk menjelaskan aktif atau tidaknya SMP Global Tekhnology 25 ini,” ucapnya.

Ia menyebutkan kalau rata-rata warga sekitar juga keberatan semenjak SMP Global Tekhnology 25 berada di kampung Bojong Kopi, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. “Warga disini itu sudah banyak yang mengeluh soal sekolah ini, karena jam pembelajaran tidak sesuai, kadang masuk pukul 08-09.00 pagi waktu itu. Dan dulu juga sempat ada siswanya, bahkan sempat lulus, tapi sampai sekarang ijazahnya ga keluar,” keluhnya.

Senada dikatakan warga setempat, Mang Babas kalau proses kegiatan belajar mengajar (kbm) di SMP Global Tekhnology 25 sudah tidak tidak ada sejak masa pandemi covid-19. “Dulu itu gurunya ada tapi sekarang ga ada, mungkin sejak jaman Covid sudah ga ada lagi. Tapi dana bantuan (BOS) selalu mengalir, sedangkan siswa disini sudah ga ada, kesian pemerintah cuma buang-buang anggaran aja, soalnya ini kan uang negara,” jelasnya.

Ditempat berbeda, Kasie Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Disdik Kabupaten Bogor, Fachrurozi mengaku pihaknya telah melayangkan surat teguran pertama kepada SMP swasta yang berlokasi di Cijeruk tersebut. “Sekolah itu ngaco, dan baru terdeteksi sama saya tahun 2023 kemarin karena pembelajaran di SMP swasta itu tidak ada. Tetapi dana BOS-nya terus mengalir, dan dibulan Desember kemarin kita langsung melayangkan surat teguran pertama,” katanya kepada PAKAR.

Namun sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan respon apapun dari pihak sekolah tersebut meskipun Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor telah melayangkan surat teguran pertama. “Sampai sekarang belum ada respon dan nanti kita akan terus melayangkan surat teguran ke sekolah tersebut sampai surat teguran ke tiga. Yang kita deteksi kalau sekolah ini sudah berdiri 4-5 tahun dan setiap tahunnya dana bos itu terus mengalir sekitar Rp 75 juta,” ungkapnya.

Fachrurozi mengaku alasan pihaknya belum melaporkan hal itu ke Aparat Penegak Hukum (APH) dikarenakan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor memiliki tahapan mekanisme yang harus ditempuh. “Ada mekanismenya untuk menempuh jalur itu dan kita akan terus menunggu respon (pihak sekolah) karena menunggu itu tidak ada batas waktunya dan harapan kita hanya meminta uang dana Bos yang sudah mengalir untuk dikembalikan,” tandasnya. AGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.