Mahasiswa ITB Datangi Rektorat, Protes Tingginya UKT dan Pembayarannya dengan Skema Pinjol

    Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) saat turun ke jalan. IST

    Oleh: Zahra Danica

    Gedung Rektorat ITB, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin, (29/1/2024), menjadi saksi ketika ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) turun ke jalanan dalam protes terhadap metode pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).

    Protes ini terkait dengan penggunaan skema pinjaman online(pinjol) melalui dana cita yang baru-baru ini menciptakan kontroversi.

    Para mahasiswa ITB yang ikut dalam aksi demonstrasi tersebut datang mengenakan almamater berwarna hijau, lambang khas identitas kampus.

    Menurut laporan Tribunmanado.co.id, Reini Wirahadikusumah, rektor ITB, menjadi viral di media sosial setelah isu pembayaran UKT menggunakan pinjol mencuat.

    Kehebohan ini semakin berkembang ketika sebuah foto menunjukkan pembayaran UKT sebesar Rp12juta dapat dilakukan melalui pinjol dan dicicil selama 6 atau 12 bulan.

    Akibatnya, mahasiswa ITB menuntut Reini Wirahadikusumah untuk mengundurkan diri. Tagar #MakzulkanReini pun muncul sebagai ekspresi ketidakpuasan.

    Lewat akun ‘X’ nya, penggunya akun @aneswaraa, Taufiq Pangestu, mengatakan bahwa pihak-pihak yang bersangkutan tidak mau diajak kompromi untuk turun langsung menerima kehadiran seluruh mahasiswa yang melakukan demo dan dikabarkan bahwa rektorpergi ke luar negeri.

    Bersamaan dengan hari unjuk rasa beberapa mahasiswa ke Gedung rektorat, pengguna akun‘X’@calendoula, Christon, mengabarkan bahwa dirinya telah dikeluarkan dari tim ditmawa ITB karena salah satu postingannya yang dinilai terlalu kasaroleh pihak ITB.

    Sebelumnya, Christon memposting sebuah cuitan ketidak sanggupan dirinyajuga gaji orang tuanya untuk membayar UKT ITB yang terlalu tinggi. Christon sendiri harus membayar UKT full dengan nominal Rp12.500.000, sedangkan gaji ayahnya hanya Rp3.700.000.

    Christon menilai pembagian UKT ini terlalu kejam dan tidak adil, system helpcenter ITB juga tidak membantu pun banding permohonan penurunan belum kunjung diterima membuatnya frustasi.

    Institut terbaik bangsa seharusnya malu mempersulit mahasiswanya. Menuntut Ilmu
    Isu ini jelas menunjukkan bahwa ketidakpuasan darimahasiswa ITB terhadap tingginya biaya yang harus dikeluarkan dan kebijakan pembayaran UKT dengan skema pinjol.

    Meskipun kebijakan ini mungkin bertujuan untuk membantu mahasiswa yang kurang mampu secara finansial, namun penggunaan pinjol sebagai metode pembayaran dapat menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.

    Selain itu, kebijakan ini juga dinilai sebagai bentuk pemerasan oleh beberapa pihak. Ditambah lagi, ITB sering kali dinilai bahwa kampus ini adalah InstitutTerbaik Bangsa, namun karena sistem UKT yang amat mengecewakan malah menunjukkanbahwa mereka mungkin dapat menjadi Institut Terburuk Bangsa.

    Bertahun-tahun kampus ini dikenal dengan sejarahnya akan alumni-alumni hebat, parapengajar luar biasa, juga mahasiswanya yang selalu buat bangga.

    Sayang sekali jika karena masalah ini citra baik Institut Teknologi Bandung akan tercoreng.

    Masalah ini sama sekali tidak mencerminkan seperti motto yang dimiliki oleh ITB, yaitu “In Harmonia Progressio” yang berarti harmoni, kebersamaan dan kemajuan karena mereka telah gagal untuk maju bersama dalam keharmonisan.***

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.