Lembaga Studi Vinus: Pendidikan Kabupaten Bogor di Masa Pandemi Sangat Memprihatinkan

Lembaga Studi Visi Nusantara (Vinus) menggelar kajian kritis dan diskusi tentang kondisi pendidikan Kabupaten Bogor di tengah masa pandemi Covid-19 yang belum usai, Rabu (24/3/2021), kemarin. Fahri | Pakar

KEMANG – Lembaga Studi Visi Nusantara (Vinus) kembali mengadakan forum kajian kritis tentang berbagai isu yang muncul khususnya di Kabupaten Bogor.

Tema kajian yang diangkat menjadi bahan diskusi itu adalah tentang kondisi pendidikan di Kabupaten Bogor di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga usai.

Peneliti Senior Lembaga Studi Vinus Asep Saeful Hidayat yang menjadi
narasumber diskusi, memaparkan bahwa berbagai program kebijakan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah Kabupaten Bogor dalam menghadapi kondisi pandemi ini masih banyak ketimpangan antara wacana kebijakan dengan aktualisasi implementatif nya di lapangan.

“Misalnya saja tentang Kurikulum Kondisi Khusus (KKK) yang dalam tahapan implementasinya sangat bias dan tidak jelas,” ungkap Asep Saeful Hidayat dalam giat kajian diskusi tersebut, Rabu (24/3/2021).

Selain itu, Asep juga menyoroti tentang kualitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring yang
diberlakukan pemerintah selama kondisi pandemi Covid-19.

“PJJ yang sudah berjalan selama hampir satu tahun minus evaluasi dari pemerintah, khususnya dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Masyarakat tidak mendapatkan informasi utuh tentang kualitas pembelajaran untuk anak didik di sekolah,” cetus Asep.

Beberapa peserta diskusi yang hadir pun memperkuat informasi aktual bahwa kondisi pembelajaran di lapangan sangat mengkhawatirkan dilihat dari segi kualitasnya.

Ramdan Nugraha, Ketua Lembaga Studi Visi Nusantara menyampaikan tidak sedikit siswa yang masih kesulitan untuk mengakses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau
daring disebabkan kendala hal-hal teknis.

Diantaranya seperti gawai (telepon genggam) yang harus para pelajar pinjam dari orang tua, kuota yang minim untuk kurikulum sehingga tidak bisa secara intensif mengikuti proses pembelajaran dan kendala lain – lainnya.

“Bahkan di salah satu tempat, kami mendapat aduan dari guru honor bahwa HP milik guru honor tersebut tidak memiliki spesifikasi yang bisa mendukung terlaksananya
kegiatan pembelajaran daring atau online,” ujar Ramdan Nugraha.

Dalam penutup diskusi, pemeliti senior Lembaga Studi Vinus, Asep Saeful Hidayat berharap adanya kajian serius dalam alokasi APBD untuk penanganan pengelolaan pendidikan dalam kondisi Covid-19.

Hal ini menurutnya bisa dengan melakukan riset serius evaluasi kebijakan tata kelola pendidikan yang sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sampai hari ini.

“Tidak ada kontrol atas kebijakan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Sehingga minus evaluasi dalam mengukur efektivitas program yang diberlakukan selama masa
pandemi ini,” pungkas Asep. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.