KPAD Selidik Soal Isu Siswi Diminta Buka Celana Buktikan Haid, SMAN 1 Dramaga : Itu Isu Sesat

Saat KPAD melakukan pemeriksaan di SMAN 1 Dramaga. (Ist)

DRAMAGA – SMAN 1 Dramaga membantah adanya isu berkembang soal pihaknya meminta sejumlah siswi membuka celana guna membuktikan haid saat diminta untuk menjalankan sholat dhuha.

“Isu itu salah dan sangat keliru. Kepala sekolah juga sudah menyampaikan bahwa kejadian itu tidak ada apa lagi untuk melakukan pelecehan sangat tidak benar,” kata Humas SMAN 1 Dramaga, Baitul Harapan kepada PAKAR.

Lanjut ia mengatakan saat kejadian tersebut bahwa pihaknya hanya menanyakan kepada siswi apakah benar sedang mengalami Hadi atau menstruasi.

“Jadi waktu itu siswi hanya ditanya benar sedang haid, jika benar langsung masuk kelas saja dan kita juga sudah menjelaskan kejadian ini ke pihak kepolisian setempat,” ucapnya.

Dirinya juga mengaku bahwa Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bogor telah datang ke SMAN 1 Dramaga guna untuk mengkonfirmasi kejadian tersebut.

“Benar KPAD sudah berkunjung kesini untuk melakukan pemeriksaan dan kita juga sudah menyampaikan kejadian ini sebenar-benarnya,” akunya kepada PAKAR.

Sementara itu Komisioner KPAD Kabupaten Bogor, Asep Saepudin mengatakan pihaknya sudah melakukan kunjungan untuk mengkonfirmasi dan klarifikasi mengenai kasus dugaan siswi diminta buka celana oleh pihak SMAN 1 Dramaga.

“Mereka menjelaskan bahwa berita yang sudah beredar tersebut tidak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya. Pihak sekolah mengungkapkan bahwa yang terjadi berawal dari pembiasaan sholat dhuha setiap satu bulan sekali yang diikuti seluruh siswa dan siswi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa saat mengikuti kegiatan sholat dhuha tersebut, itu artinya pihaknya melihat dan mencirikan ada beberapa siswi yang tidak mengikuti kegiatan positive yang digelar SMAN 1 Dramaga.

“Rasa khwatir itu muncul akan kejujuran anak memicu pihak sekolah untuk mengumpulkan siswi yang mengatakan sedang berhalangan, dan itu hanya guru perempuan yang terlibat, tidak ada guru laki-lakinya dan proses yang dilakukan pun diawali dengan memisahkan siswi lalu bagi siswi non muslim diminta langsung masuk ke kelas,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa guuru meminta para siswi tersebut untuk saling memeriksa temannya dengan hanya meraba bagian belakang para siswi tersebut guna untuk memastikan apakah ada yang mengganjal berupa pembalut atau tidak.

“Saat dirasakan ada pembalut langsung diminta masuk ke kelas dan itu tidak semua siswi, baru beberapa saja karena keburu bel masuk berbunyi. Jadi berita yang beredar justru bersumber dari siswa yang bahkan tidak termasuk siswi yang dikumpulkan. Jadi hanya berdasarkan cerita selintas yang dia dengar saja,” terangnya.

Lanjut ia mengungapkan bahwa pihak sekolah jug sudah meminta maaf atas ketidaknyamanan ini kepada para siswi dan juga mengklarifikasi kejadian sebenarnya kepada orangtua siswi yang datang menanyakan.

“Lebih jauh pihak sekolah juga mengungkapkan bahwa mereka sudah melakukan upaya konseling terhadap beberapa siswi yang dikhawatirkan merasa shock dengan kejadian ini,” tandasnya. AGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.