Komisi III Minta Disdik Segera Bangun RKB di SDN Nyalindung

CILEUNGSI – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Achmad Fathoni melakukan peninjauan ke lokasi SDN Nyalindung di Desa Mampir yang mengalami minimnya ruang kelas setiap proses kegiatan belajar mengajar (KBM)

Akibat minimnya ruang kelas tersebut yang tidak sebanding dengan jumlah peserta didik, dirinya menyebut proses waktu belajar mengajar di SDN Nyalindung tersebut terbilang sangat extreme.

“Saya melihat kondisi disekolah ini sangat sungguh extreme, karena di SDN Nyalindung ini hanya ada 29 rombel (rombongan belajar) dan hanya tersedia 9 ruang kelas. Dan kondisi sekolah seperti ini baru saya dengar pertama kali dan membuat saya khawatir karena membahayakan dalam mengatur pemanfaatan ruang kelas dengan jumlah murid sebanyak itu,” katanya kepada PAKAR, pada Selasa 19 Maret 2024.

Lanjut ia mengatakan bahwa awal mendapatkan informasi itu, sejak dirinya melaksanakan Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) di tingkat Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

“Pertama kali saya tau kondisi SDN Nyalindung di Desa Mampir saat Musrenbang Cileungsi dan disana ada Kepala SDN Nyalindung dengan menyampaikan kalau di sekolahnya sangat memerlukan penambahan ruang kelas baru (Rkb). Maka dari itu saya berjanji akan memperjuangkan ke disdik dan akan menyempatkan diri untuk mengunjungi dan melihat langsung disekolahnya,” ungkapnya.

Aleg Dapil II itu pun menyebut bahwa siswa kelas I (satu) hingga kelas VI (enam) terpaksa harus berbagi sift demi menempuh pendidikan setiap harinya.

“Ada kelas satu yang berjumlah enam kelas dibikin menjadi tiga sift, lalu kelas dua dan kelas tiga dijadikan dua sift, sedangkan kelas empat dan kelas lima masuk siang setelah pukul 13.00 dan kemudian kelas 6 masuk pukul 11.00 WIB,” terangnya.

Maka dari itu selesai dirinya melakukan kunjungan ke sekolah tersebut, ia berharap Dinas Pendidikan memprioritaskan pembangunan SDN Nyalindung yang berlokasi di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

“Dengan kunjungan ini saya ingin sampaikan ke disdik kalau ruang kelas yang katanya sudah dipenuhi, tapi nyatanya masih banyak yang membutuhkan. Maka dari itu ini menjadi fokus saya dibidang pendidikan untuk memastikan sarana dan prasarana mendapatkan kualitas pendidikan yang bisa dipenuhi oleh pemerintah daerah,” tukasnya.

Sementara itu Kepala SDN Nyalindung, Tintin Rondasih mengeluhkan kalau sarana ruang belajar disekolahnya masih sangat sedikit yakni hanya ada sekitar 9 rombel (rombongan belajar).

“Jadi kami menyiasati siswa-siswi belajar disini itu ada yang 3 sampai 4 shift untuk mengatur ruangan saat proses belajar mengajar. Bahkan dalam satu ruang kelas itu bisa sampai 50 siswa, makanya harapan saya kedepan mudah mudahan pemerintah bisa melihat kondisi sarana pendidikannya di SDN Nyalindung,” tandasnya. AGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.