Kejari Cianjur Periksa Para Agen E-Warung Soal Dugaan Pungli Bantuan BPNT

Yayan salah seorang agen/E-Warung Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang, usai diperiksa di halaman kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur. (ESYA)

CIANJUR – Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur, mulai memeriksa sejumlah oknum E-Warung, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Supplier, Kecamatan Sindangbarang terkait dugaan pungutan liar (pungli) “Uang Gesek” Rp 5000/keluarga penerima mamfaat (KPM) diprogram bantuan pangan non tunai (BPNT).

Kepala Seksi Intelejen (Kasi Intel) Kejaksaan Negeri Cianjur, Rohmadi membenarkan jika pihaknya tengah memeriksa sejumlah oknum orang yang terlibat dalam dugaan kasus uang gesek Rp 5000/KPM. “Iya memang benar, kami sedang memeriksa sejumlah orang yang terlibat, terkait dugaan uang gesek Rp l5000/KPM yang terjadi diwilayah Kecamatan Sindangbarang,” ucap Rohmadi.

Salah seorang agen atau E-Warung Yayan (49) Warga Kampung Rawajaha RT 05/06 Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang membantah jika uang tersebut, bukanlah uang gesek. Namun warga disana menyebutnya uang gesek. “Karena kami agen, memang sudah diberi keuntungan dari supplier sebesar Rp 1000/KPM. Seperti dari beras dan sembako yang berupa jenis kacang, daging, apel dari program bantuan pengan non tunai (BPNT) tersebut. Sebenarnya itu, bukan uang gesek akan tapi warga disana menyebutnya uang gesek,” bantah Yayan usai diperikasa kejaksaan.

Uang tersebut, lanjut Yayan, merupakan keuntungan dari supplier dalam program bantuan pengan non tunai (BPNT). Tapi memang rata-rata orang disana sebagai keluarga penerima mamfaat(KPM) menyebutnya (KPM) “uang gesek”. “Maaf itu bukan uang gesek, tapi memang kebanyakan warga masyarakat disana meneyebutnya uang gesek. Jadi kami, sebagai agen/e-warung sudah mendapatkan keuntungan totalnya sebesar Rp 1000,/KPM dari Supplier. Itu hasil dari berbagai komoditas bantuan program BPNT,” tandasnya.

Hal yang sama dibantah oleh salah satu supplier program BPNT Ajeng. Menurutnya uang gesek Rp 5000,/KPM itu dari mana. “Uang bantuan pangan non tunai (BPNT) bukan dicairkan oleh keluarga penerima manfaat (KPM). Tapi oleh agen atau E-Warung karena setiap KPM memiliki batuan uang sebesar Rp 200.000, lalu ditukar ke a gen atau E-Warung dengan sejumlah komoditas sesuai kiriman dari supplier,” papar Ajeng.

Apabila memang terjadi pencairan uang gesek sebesar Rp 5000/KPM, terang Ajeng, itu diluar sepengetahuan pihak supplier. “Jika memang terjadi ada uang gesek Rp 5000,- itu saya tidak tahu, apalagi ada dalam stuk kartu KPM. Tapi saya tidak mengeluarkan yang seperti itu,” pungkasnya. SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.