Kejari Cianjur Marathon Periksa Agen E-Warung Soal Dugaan Pungli Bantuan BPNT

CIANJUR – Terkait dugaan pungli “uang gesek” di program bantuan pangan non tunai (BPNT) di Kecamatan Sindangbarang, Cianjur selatan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur, kembali memanggil Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Suppiler Senin (22/2/2021).

Sebelumnya sebanyak 7 orang Agen atau E-Warung dan dua orang lainya yakni TKSK dan Supplier, Kecamatan Sindangbarang, telah dipanggil oleh pihak Kejaksaan Negeri Cianjur, pada tanggal 18 Februari 2021 lalu.
Informasi yang berhasil dihimpun pakuanraya.com, sebelumnya telah memeriksa sebanyak 7 orang Agen atau E-Warung dan dua orang lainya yakni TKSK dan Supplier, Kecamatan Sindangbarang pada tanggal 18 Februari 2021 lalu. Kemudian memeriksa sebanyak 5 orang Agen/E-Warung lainnya yang belum diminta keterangannya.


Kepala Seksi Intejen (Kasi-Intel) Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur, Rohmadi membenarkan jika pihaknya tengah meminta keterangan dari sebanyak 5 orang Agen atau E-Warung yang belum memenuhi panggilannya. Sebelumnya sebanyak 7 orang Agen atau E-Warung dan dua orang lainya yakni TKSK dan Supplier, Kecamatan Sindangbarang.

“Memang kelima orang ini, belum diperiksa seperti kepada 7 orang agen atau e-warung pada tanggal 18/2/2021 lalu. Hari ini, saya kembali memeriksa 5 orang agen lainnya yang belum diminta keterangannya,”tegas Kasi Intel Kejari Cianjur, Rohmadi melalui sambungan teleponnya kepada awak media Senin (22/2/2021).


Sebelumnya, salah seorang agen atau E-Warung Yayan (49) Warga Kampung Rawajaha RT 05/06 Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang membantah jika uang tersebut, bukanlah uang gesek. Namun warga disana menyebutnya uang gesek.

“Karena kami agen, memang sudah diberi keuntungan dari supplier sebesar Rp 1000/KPM. Seperti dari beras dan sembako yang berupa jenis kacang, daging, apel dari program bantuan pengan non tunai (BPNT) tersebut. Sebenarnya itu, bukan uang gesek akan tapi warga disana menyebutnya uang gesek,” bantah Yayan usai diperikasa kejaksaan.


Uang tersebut, lanjut Yayan, merupakan keuntungan dari supplier dalam program bantuan pengan non tunai (BPNT). Tapi memang rata-rata orang disana sebagai keluarga penerima mamfaat(KPM) menyebutnya (KPM) “uang gesek”.

“Maaf itu bukan uang gesek, tapi memang kebanyakan warga masyarakat disana meneyebutnya uang gesek. Jadi kami, sebagai agen/e-warung sudah mendapatkan keuntungan totalnya sebesar Rp 1000,/KPM dari Supplier. Itu hasil dari berbagai komoditas bantuan program BPNT,” tandasnya.


Hal yang sama dibantah oleh salah satu supplier program BPNT Ajeng. Menurutnya uang gesek Rp 5000,/KPM itu dari mana. “Uang bantuan pangan non tunai (BPNT) bukan dicairkan oleh keluarga penerima manfaat (KPM). Tapi oleh agen atau E-Warung karena setiap KPM memiliki batuan uang sebesar Rp 200.000, lalu ditukar ke a gen atau E-Warung dengan sejumlah komoditas sesuai kiriman dari supplier,” papar Ajeng.


Apabila memang terjadi pencairan uang gesek sebesar Rp 5000/KPM, terang Ajeng, itu diluar sepengetahuan pihak supplier. “Jika memang terjadi ada uang gesek Rp 5000,- itu saya tidak tahu, apalagi ada dalam stuk kartu KPM. Tapi saya tidak mengeluarkan yang seperti itu,” pungkasnya. SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.