Jangan Dianggap Remeh

Redaktur Pelaksana Harian PAKAR, Roy Andi. IST

Terus masifnya kritik serta ungkapan keresahan sejumlah perguruan tinggi negeri atau swasta, diprediksi bisa mengikis tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Bahkan, aksi protes civitas akademika dianggap sebagai bentuk mosi tidak percaya kelompok menengah terdidik terhadap rezim penguasa yang sekarang ini aksi-aksi mereka sudah dipandang tidak dapat diterima, baik secara logika, hati nurani serta nilai-nilai etika.
Melihat dari berbagai peristiwa, maka sejarah selalu menunjukkan adanya gerakan perubahan atau revolusi, selalu dimulai dengan kegelisahan, kekecewaan sampai kemarahan kelas atau kelompok menengah.


Diketahui, munculnya pernyataan sikap sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta, diawali Universitas Gadjah Mada (UGM), 31 Januari lalu.

Saat itu UGM melalui civitas akademika yang terdiri dari guru besar, dosen, dan mahasiswa, menyampaikan petisi Bulaksumur, yang menyayangkan penyimpangan demokrasi oleh presiden.


UGM menyampaikan petisi kepada Jokowi yang isinya mendesak segenap aparat penegak hukum serta semua pejabat negara dan aktor politik di belakang Presiden, termasuk Jokowi sendiri, untuk segera kembali pada koridor demokrasi.


Langkah itu pun diikuti civitas akademika kampus-kampus lain dan terjadi sampai beberapa hari lalu.


Banyak pihak menilai, jika gerakan perguruan tinggi itu terus bergulir, maka bisa saja langkah tersebut akhirnya melahirkan gerakan mahasiswa.


Disaat krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahan Jokowi, akhirnya berbuntut panjang. Bisa saja seruan-seruan protes di lingkungan kampus itu bertransformasi menjadi aksi unjuk rasa mahasiswa yang besar, kemudian terulang kembali aksi mahasiswa seperti tahun 1998.


Saya beranggapan, sikap dari para civitas akademika terhadap pemerintahan atau Presiden Jokowi jangan dipandang sebelah mata atau dianggap remeh.


Karena, kritik serta masukan-masukan tersebut lahir dari pemikiran cerdas.
Jika mengamati tuntutan-tuntutan yang keluar dari puluhan kampus tersebut, bisa dilihat jika kritik yang ada merupakan bentuk pencerahan terhadap perjalanan kehidupan bangsa dan untuk meneguhkan kembali moralitas bangsa.


Kalau semua memiliki niat baik untuk melaksanakan perjalanan kehidupan kebangsaan, dengan selalu berpijak pada nilai-nilai konstitusional, kemudian menjunjung tinggi etika serta moralitas kehidupan kebangsaan, maka sebagai penguasa jangan tersinggung dengan semua kritikan yang dilontarkan kalangan intelektual yang mungkin sudah ‘gerah’ dan tak tahan, melihat aksi Jokowi dan menteri-menterinya yang diduga berpihak ke salah satu peserta pilpres 2024 ini.(*)

Penulis:
Redaktur Pelaksana Harian PAKAR
Roy Andi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.