Jadi Biang Keladi Macet, Truk Tambang di Rumpin Tetap Langgar Aturan

Truk angkutan tambang saat melintas di Rumpin. (Fahri | Pakar)

RUMPIN – Kemacetan lalu lintas yang seringkali terjadi di jalan raya Cicangkal Desa Sukamulya Kecamatan Rumpin di persoalkan warga. Pasalnya, kemacetan panjang sering terjadi bahkan mengular hingga mencapai satu kilometer.

Kemacetan lalu lintas ini selain akibat jalan yang rusak, juga disebabkan oleh banyaknya truk tronton yang mengisi BBM di waktu siang hari. Sehingga seringkali mengganggu aktivitas warga lainnya yang juga hendak mengisi BBM.

“Padahal sudah jelas, di Perbup Bogor, di waktu siang hari truk tronton dilarang melintas,” ungkap Junaedi Adi Putra, Ketua Forum Masyarakat Desa (FMD) Sukamulya, Jum’at (10/5/2024).

Menyikapi hal tersebut, perwakilan dari warga, pengusaha angkutan tambang, pengelola SPBU dan jajaran pemerintah melakukan musyawarah guna upaya mengatasi masalah kemacetan itu.

Pertemuan mediasi berlangsung di kantor Desa Sukamulya, dipimpin oleh Kapolsek Rumpin, Kompol Sumijo SH dari jajaran Forkopimcam Rumpin dan apartur Pemerintah Desa Sukamulya.

Kapolsek Rumpin Kompol Sumijo SH mengungkapkan, dari hasil mediasi disepakati bahwa truk tronton hanya di perbolehkan mengisi BBM di jam 20.00 WIB hingga jam 05.00 WIB,” ungkap Kompol Sumijo.

Ia menjelaskan, kesepakatan tersebut akan terus dipantau dan akan dievaluasi dalam waktu satu minggu ke depan. Selain itu, Kapolsek Rumpin meminta agar sopir truk tronton tidak parkir di badan jalan dan di dalam area SPBU.

“Saya meminta kepada pihak SPBU dan para pengusaha transporter agar bisa melaksanakan kesepakatan ini secara baik, sehingga dapat jadi solusi bagi semua pihak,” tandas Kompol Sumijo.

Sementara seorang tokoh masyarakat di Cicangkal, Agus Tarmizi berharap agar kesepakatan yang dibuat bisa berjalan dan ditaati oleh semua pihak, khususnya para sopir truk tronton dan pihak SPBU.

“Karena yang terdampak kemacetan itu terutamanya warga sekitar SPBU. Maka kami berharap poin kesepakatan yang dibuat dijalankan secara konsekuen,” ujar lelaki yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun (Kadus) ini.

Sedangkan Walid, perwakilan transporter angkutan tambang mengaku pihaknya mendukung adanya kesepakatan namun membutuhkan waktu untuk sosialisasi. Ia mengatakan, kemacetan yang terjadi juga disebakan lokasi SPBU berdekatan dengan pasar rakyat juga hanya satu – satunya SPBU di wilayah tersebut.

“Ya memang kalau ada SPBU khusus akan lebih baik. Tapi kami akan ikuti kesepakatan yang sudah dibuat karena bukan untuk kepentingan perorangan tapi untuk kepentingan semua pihak,” tukasnya. FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.