Iwan-Rudy, “Matahari Kembar” yang Berpotensi Pecah di Tubuh Gerindra

Kolase Iwan Setiawan dan Rudy Susmanto. IST

CIBINONG – Gerindra, menjadi salah satu partai yang diunggulkan pada pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bogor.

Selain sebagai pemenang Pemilu, partai besutan Prabowo Subianto itu juga diisi oleh sejumlah kader yang mumpuni. Di Kabupaten Bogor, yang paling menonjol adalah Iwan Setiawan dan Rudy Susmanto.

Iwan merupakan sosok incumben pada Pilkada, atau pernah menjabat sebagai Bupati Bogor pada periode kemarin. Sementara Rudy adalah Ketua DPRD Kabupaten Bogor yang pada Pileg saat ini juga meraih suara terbanyak.

Keduanya pun belakangan dikabarkan memiliki hasrat untuk maju di Pilkada sebagai Bakal Calon Bupati (Bacabup) Bogor. Lalu kepada siapa Prabowo Subianto akan memberikan SK DPP Gerindra untuk Pilkada?

Kondisi itu pun ditanggapi Pengamat Politik dari Universitas Djuanda (Unida), Gotfridus Goris Seran.

Dosen FISIP Unida menilai baik Iwan maupun Rudy merupakan sosok yang kuat di Kabupaten Bogor.

Namun, kata dia, saking kuatnya “matahari kembar” tersebut, berpotensi terjadi perpecahan di dalam tubuh Gerindra.

“Kontestasi kandidat internal Gerindra saat ini melahirkan “matahari kembar”: Iwan Setiawan vs Rudy Susmanto.
Realitas “matahari kembar” menunjukkan terjadinya fragmentasi internal Gerindra sehingga berdampak pada melemahnya kekuatan dan soliditas partai sebagai mesin penggerak pemenangan pilkada.
Baik Iwan maupun Rudy masing-masing memiliki keunggulan komparatif,” kata Seran, Minggu (2/6/2024).

Lebih lanjut Seran menjelaskan, Iwan adalah Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bogor dan mantan Bupati Bogor. Sementara Rudy adalah Ketua DPRD Kabupaten Bogor.

Menurutnya keduanya memiliki kontribusi besar terhadap kemenangan Partai Gerindra dalam dua pemilu terakhir: Pemilu 2019 (14 kursi) dan Pemilu 2024 (12 kursi). Dengan kemenangan ini, Partai Gerindra tampil sebagai kekuatan politik signifikan di Kabupaten Bogor.

“Akan tetapi, dengan kemenangan elektoral ini, Iwan Setiawan punya nilai lebih karena Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bogor. Namun fakta juga menunjukkan Rudy lebih dekat dengan Prabowo. Dan ini menjadi catatan bagi DPP Partai Gerindra untuk merekomendasikan siapa yang bakal menjadi calon bupati Bogor,” jelas Seran.

Pada kondisi itu, Seran menilai, sosok yang memiliki kedekatan dengan Prabowo Subianto memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan tiket menuju Pilkada 2024 di Kabupaten Bogor.

Di samping itu, kata dia, Prabowo Subianto tentu tahu persis dinamika politik di Kabupaten Bogor.

“Seiring dengan kemenangan dalam Pilpres 2024, tentunya Prabowo Subianto menginginkan kemenangan Partai Gerindra dalam Pilbup Bogor nanti guna memperkuat kekuasaan dan pemerintahan hingga daerah, agar program-programnya sukses ke depan,” jelasnya.

Namun jika Prabowo hanya mengedepankan faktor kedekatan, kata Seran, maka potensi perpecahan dengan memunculkan faksi di tubuh Gerindra itu sangat mungkin terjadi.

“Iwan dan Rudy pecah, saling berebut rekomendasi calon bupati dari DPP Partai Gerindra untuk sama-sama maju sebagai cabup dalam Pilbup 2024. Perpecahan ini memunculkan faksi di tubuh Partai Gerindra Kabupaten Bogor. Faksi Iwan vs faksi Rudy,” bebernya.

Seran menyebut gejolak ini membuat sejumlah kader terpecah yang tentu tidak diinginkan oleh Prabowonkarena akan berdampak buruk terhadap soliditas dan kekuatan partai.

Dampak lainnya, lanjut Seran, adalah melemahkan citra partai di mata masyarakat Kabupaten Bogor, yang akan memilih calon bupati Bogor dalam pilkada 2024.

“Dampak buruk ini akan mempengaruhi pencapaian kemenangan dalam Pilbup Bogor. Sehingga menurut saya, tiket Pilkada dari Gerindra itu harus objektif dengan mempertimbangkan berbagai faktor di dalamnya,” pungkas Seran. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.