IPB Sebut Peternakan Berperan Besar Dalam Perekonomian Indonesia

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pembangunan Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Arief Darjanto. (Dok.IPB)

BOGOR – IPB University menyebut, subsektor peternakan memiliki peran sangat penting dalam perekonomian Indonesia baik dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia kebutuhan protein hewani, penyerapan tenaga kerja dan dalam penyediaan bahan baku industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),
kontribusi subsektor peternakan terhadap PDB pada tahun 2020 mencapai 1,69 persen.
Dari jumlah tersebut, 62 persen diantaranya berasal dari industri perunggasan dan hasil turunannya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pembangunan
Departemen Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Arief Darjanto mengungkapkan, dari subsektor tersebut, nilai omset industri perunggasan sekitar Rp700 triliun per tahun. Kontribusi lain adalah penyerapan tenaga kerja oleh industri perunggasan yang diperkirakan sekitar 10 juta pekerja.

“Industri perunggasan pun memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages) yang penting. Industri ini menggunakan jagung (35-50 persen) sebagai bahan inti pakan unggas, ditambah dengan bungkil kacang kedelai (20-25 persen), dedak (10-15 persen) dan komponen bahan lainnya,” kata Arief Darjanto dalam keterangan tertulisnya yang diterima PAKAR, Kamis (9/6/2022).

Lebih lanjut dia mengatakan, keterkaitan ke depan ditunjukkan bahwa perunggasan juga memiliki peranan penting dalam pengolahan makanan, menambah nilai, dan menciptakan lapangan kerja.

Industri perunggasan juga penyedia kebutuhan protein utama dengan porsi sekitar 70 persen yang dapat diproduksi menjadi protein dari kandang ke meja makan (from farm to table) dengan proses tercepat dibandingkan dengan jenis daging lainnya.
Sehingga, kata dia, daging ayam sebagai raja
daging atau “king of meat”.

“Pada masa krisis pandemi, harga daging ayam tetap lebih murah dibandingkan dengan protein daging lainnya yang sangat penting pada saat ketidakpastian ekonomi beberapa tahun terakhir ini. Produksi daging ayam dan telur saat ini telah mencapai tahap swasembada. Daya tahan dan daya saing subsektor peternakan juga turut direfleksikan oleh sektor perunggasan,” jelasnya.

Arief Darjanto juga menyebutkan, industri perunggasan merupakan pasar menarik (atraktif) karena potensi konsumsi protein dan nilai transaksi pasar yang besar, baik dalam era sebelum, pada saat, dan setelah pandemi (era kenormalan baru).

Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa daya saing sektor perunggasan masih menghadapi berbagai tantangan pada setiap tahapan rantai nilai.

Mencermati tren transformasi yang terjadi, Arief Darjanto menilai perlu dilakukan upaya sistematis untuk meningkatkan daya saing sekaligus mempromosikan ketangguhan dan ketahanan (resiliensi) industri perunggasan di Indonesia.

Faktor-faktor yang memengaruhi transformasi perunggasan di Indonesia dapat diidentifikasi dari sisi permintaan, penawaran, dan kebijakan publik.

Arief Darjanto menyebut industri perunggasan Indonesia memiliki berbagai tantangan di sepanjang rantai. Tantangan utama yang pertama dihadapi adalah biaya pakan. Bahan pakan sebanyak 65 persen berasal dari lokal dan 35 persen impor. Harga jagung dan kedelai ditentukan secara internasional tetapi cenderung meningkat bagi produsen Indonesia.

Tantangan kedua adalah skala produksi.
Skala yang cukup kecil membuat Indonesia rentan terhadap negara-negara pengekspor yang mengeksploitasi skala ekonomi. Selain itu, peternak juga cenderung memotong ayam pedaging dengan bobot yang lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia.

Tantangan ketiga, ketidakmampuan untuk mengekspor. Saat ini Indonesia telah berswasembada daging ayam dan memiliki kecenderungan surplus yang belum mampu kita ekspor karena belum ada sistem yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan sanitasi dan fitosanitasi pasar ekspor.

Tantangan keempat, daya saing industri perunggasan nasional dihadapkan masih adanya input produksi yang diimpor dan ancaman masuknya daging ayam dari luar negeri. Tantangan kelima, preferensi konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih memilih daging ayam segar dibandingkan. =MAM/*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.