Inilah Penyebab Banjir di Wilayah Citereup Kata Ferry Roveo

CITEUREUP – Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Ferry Roveo Checanova menilai jika masyarakat lebih peduli menjaga bantaran dan garis sepadan sungai dapat meminimalisir banjir di kampung Kebon Kopi, Kelurahan Puspanegara, Kecamatan Citeureup.

Perlu diketahui terdapat 50 kepala keluarga di kampung Kebon Kopi sering dihantui rasa takut karena selalu menjadi korban banjir, terutama saat intensitas curah hujan tinggi melanda di Kabupaten Bogor.

“Memang banjir itu akan terus berdampak apa lagi jumlah populasi penduduk itu setiap tahun semakin meningkat. Dan masyarakat yang membangun bantaran kali dan membuang sampah pun pastinya akan terus meningkat,” kata Fio sapaan akrabnya.

Aleg Dapil I itu pun menyebut perlu ada kerja sama semua pihak baik itu dengan masyarakat, Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bogor.

“Seharusnya ada kesinambungan antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah Kecamatan dan pemerintah kabupaten bogor. Dan masyarakat juga harus ada untuk ikut gotong royong, meskipun mereka biasanya tidak sadar sering membuang sampah dan pentingnya mengetahui larangan membangun bangunan di garis sepadan sungai,” ungkapnya.

Maka dari itu ia menyesalkan ketika banjir menerjang pemukiman, masyarakat malah bertanya ke Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.

“Karena masyarakat sering membuang sampah aliran sungai dan membangun bangunan di garis sepadan sungai akhirnya ketika banjir dampaknya kembali ke masyarakat. Tetapi ketika banjir malah bertanya ke Pemerintah Daerah, padahal itu ulahnya mereka sendiri,” jelasnya.

Meskipun begitu Politisi PPP tersebut meminta agar pemerintah setempat melalui RT/RW menghimbau kepada masyarakat untuk larangan membuang sampah sembarang dan larangan membangun bangunan tanpa izin di garis sepadan sungai.

“Solusinya masyarakat dulu, dan rt/rw pun harus menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Karena dengan membuang sampah sembarangan sentimen di semua bantaran kali itu menjadi tinggi. Sedangkan daya tampungan air hujan atau limbah rumah tangga itu membludak,” imbuhnya.

Ia memaparkan apabila aliran sungai terjaga maka menurutnya tidak akan ada banjir masuk ke dalam pemukiman masyarakat khususnya di kampung Kebon Kopi, RT 04/10, Kelurahan Puspanegara, Kabupaten Bogor.

“Sekarang banyak tanah kosong yang hilang padahan itu menjadi rasapan air dan di Citeureup-Sukaraja itu tadinya tidak banjir, mungkin 10 tahun kedepan akan banjir. Tapi kalau airnya mengalir, sungainya pun terjaga, insyaallah tidak akan terjadi banjir,” pungkasnya.

Sementara itu Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor Adam Hamdani menyampaikan bahwa 50 unit rumah atau 157 jiwa di Kampung Kebon Kopi, RT 04/10, Kelurahan Puspanegara, Kecamatan Citeureup sering terdampak banjir rutinan.

“Setiap curah hujan tinggi kampung ini sering terendam banjir karena aliran kali cibebeur meluap dengan ketinggian 150 cm sehingga masuk ke pemukiman warga di kampung Kebon kopi, mungkin ada 50 rumah yang terendam akibat banjir rutinan ini,” tandasnya. AGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.