Ini Suka Duka Para Pemetik Teh di Puncak Cisarua

Para pemetik teh di Puncak Cisarua. Firman | Pakar

CISARUA – Lika Liku pemetik daun teh tidak sesejuk udara segar dan keindahaan pemandangan di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Target atau pencapaian hasil panen tentunya menjadi suatu tantangan sebab, jika hasil pencapaian tak sesuai dengan target maka pendapatan pun tidak seindah tenaga yang terkuras.

Pendapatan yang tak kurang dar Rp. 2.000.000 juta perbulannya tak sesuai dengan apa yang diharapkan ibu-ibu tangguh pemetik teh. Salah satu pemetik daun teh di kawasan Puncak, Yuyu Mae mangatakan, dirinya menceritakan kalau pada saat panen tiba yang paling menggembirakan ialah pada saat mendapatkan hadiah atau premi.

“Sukanya itu kalau kita lagi panen ya, kalau dulu kan borong lagi panen kita dapat penghasilan itu banyak, sekarang juga ini kalau tercapai kita target kita dapat premi, kalau kurang kita kena punismen,” ujarnya, Minggu (21/05/23).

Tapi di sisi lain apabila target dalam satu bulannya tidak tercapai para pemetik teh tersebut akan mendapatkan punismen berupa pengurangan gaji. “Punismennya itu pengurangan gaji, cuman ga besar gimana kita ada kekurangan dari fasilitas kita, kalau kitakan ditargetnya 180 (ton) kalau pake mesin, kalau manual 90 (ton), kalau kita ga nyampe satu bulan kita kena punismen. Tapi kalau kita lebih dari target itu kita dapat premi,” ungkapnya.

Hasil panen yang dihasilkan para pemetik tentunya akan menjadi bahan persentasi sebab, hasil tersebut yang akan menentukan dari pendapatan para pemetik. “Dukanya ya kalau kena punismen, dipotongnya kadang Rp 200.000, Rp 300.000 kadang juga Rp 500.000,” katanya.

Ia yang bekerja di sebuah sub perusahaan teh atau pihak ketiga perusahaan yang saat ini ia dedikasikan dirinya untuk menyambung hidup. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Nandar salah satu Teknisi Mesin pemotong teh, dirinya mengatakan kalau dulunya perusahaan tempat dimana dirinya kerja memiliki tempat pengolahan akan tetapi saat ini sudah ditutup. “Sudah tutup di sininya, kerjasama sama pihak ketiga. Ada Tri Bintang, ada SGS pihak ketiganya,” terangnya.

Saat ditanyai mengenai kenapa perusahaannya tidak mengelola teh lagi dirinya masih belum mengetahui pasti alasannya kenapa. “Ga tau nih kita sampai tutup ya, ga tau karena produksinya kurang atau apa,” pungkasnya. FIR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.