Ini Saran Pengamat Sebelum PTM Diberlakukan Pemerintah

Pengamat kebijakan publik, Yusfitriadi. IST

RANCABUNGUR – Pengamat kebijakan publik yang dikenal kritis, Yusfitriadi menyampaikan beberapa sumbang saran sebelum PTM di lanjutkan di Kabupaten Bpgor.

Ia menjelaskan, memang saat ini melihat psikologi masyarakat, terlebih orang tua yang anaknya sekolah dan pelajar itu sendiri, berada dalam kondisi yang tidak jelas.

Banyak orang tua tidak memahami pola pembelajaran di rumah atau pola pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di sisi lainnya, anak didik juga banyak yang kekurangan fasilitas media pembelajaran seperti gadget, tapi adapula pelajar yang sulit untuk mengontrol penggunaan gadget.

“Bahkan banyak anak cenderung saat belajar justeru disibukan dengan gadget sampai tengah malam bahkan dinihari,” ucapnya.

Namun di asisi lain, lanjut Yusfitriadi, model, pola dan pendekatan pembelajaran yang dimiliki oleh guru dan sekolah juga terkadang tidak jelas. Sehingga pola pembelajaran online dan jarak jauh, pada akhirnya menuai kompleksitas permasalahan.

“Apalagi bicara mutu pendidikan, sudah hampir bisa dipastikan sangat jauh. Sehingga tatap muka langsung merupakan praktek pembelajaran yang didambakan oleh semua pihak,” ujarnya.

Kang Yus melanjutkan, saat ini praktek belajar mengajar secara langsung atau pembelajaran tatap muka (PTM) bukan tanpa resiko. Karena pandemi Covid-19 hingga saat ini belum menghilang dan masih mengancam siapapun.

“Sehingga ancaman kesehatan dengan pembelajaran tatap muka sangat potensial. Hal itu sudah dibuktikan masih adanya beberapa siswa yang terpapar covid-19,” imbuhnya.

Yus melihat bahwa praktek belajar mengajar langsung yang dilakukan saat ini tidak didahului oleh proses treatment yang utuh. Seperti untuk memastikan masyarakat dan anak sudah dilakukan pemeriksaan melalui alat yang akurat, bahkan bila perlu memastikan sudah divaksin.

“Sehingga resiko adanya penularan covid-19 bisa diminimalisir. Selain itu, riwayat anak yang akan mengikuti pembelajaran tatap muka pun harus menjadi pertimbangan utama. Terlebih pelajar menengah baik menengah pertama apalagi menengah atas,” papar Yus.

Ia menjelaskan, daya jangkau pergaulan pelajar menengah tidak ada yang bisa membatasi. Ketika tidak difahami riwayat siswa satu persatu, lanjut Kang Yus, maka potensial penyebaran Covid-19 tidak akan terelakan.

Lalu pada sisi kelembagaan pendidikan, lanjut kang Yus, harus dipastikan adanya treatment. Syukur-syukur kepastian vaksinasi bagi seluruh SDM pendidikan yang ada disekolah itu. Selain Itu, harus dipastikan pula bahwa sarana dan prasarana pendidikan dalam kondisi aman dengan memelihara protokol kesehatan.

“Jika lembaga sekolah tidak bisa memastikan semua hal itu, maka jangan diikutsertakan pembelajaran tatap muka (PTM). Karena akan sangat beresiko,” pungkasnya. =FRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.