Ini Kata Bupati Soal Kabupaten Cianjur Jadi Daerah Aglomerasi


CIANJUR—Menyusul disahkannya Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (DKJ), secara resmi Kabupaten Cianjur menjadi daerah Aglomerasi. Pasalnya, wilayah ini menjadi bagian integral sebagai penyangga Jakarta yang saat ini berubah nama menjadi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur (Jabodetabekjur).


Bupati Cianjur Herman Suherman mengaku jika melihat dari berbagai faktor yang menjadi pertimbangan wilayah Kabupaten Cianjur yang akhirnya menjadi bagian dari aglomerasi. Satu menjadi andalan sebagai daerah tangkapan air (catchman area).


“Memang saat ini, pemerintah itu melihat Cianjur sebagai catchman area. Sebab Jakarta ini telah menjadi daerah langganan banjir. Nah, daerah catchman area-nya ini ada di Cianjur,” kata H Herman, kepada wartawan belum lama ini.


Pasalnya, lanjut Herman, wilayah catchman area di Kabupaten Cianjur berada di kawasan utara. Seperti wilayah Kecamatan Cipanas, Pacet, Cugenang, Sukaresmi, dan Cikalongkulon. “Tentunya daerah ini harus banyak ditanami berbagai tanaman atau pepohonan untuk menyerap air agar tidak terjadi banjir ke Jakarta,” terangnya.


Menurutnya, didasari dengan tumbuh suburnya berbagai komoditas pangan, maka pertimbangannya Kabupaten Cianjur menjadi bagian aglomerasi. Sehingga, ada desain agar Kabupaten Cianjur menjadi daerah ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan di Jakarta. “Selama ini, kan wilayah Cianjur memang sudah menjadi daerah penyangga Jakarta. Jadi, selain menjadi catchman area, juga sebagai daerah ketahanan pangan bagi Jakarta,” ujarnya.

Mungkin ke depan, lanjut H Herman, bisa saja Kabupaten Cianjur juga dipersiapkan untuk menampung sampah buangan dari Jakarta dan sekitarnya. Hal itu tidak terlepas juga dibangunnya TPST Mekarsari di Kecamatan Cikalongkulon yang merupakan relokasi dari TPA Pasirsembung di Kecamatan Cilaku. “Meskipun pengelolaan sampah baru 25% hingga barang jadi. Ke depan kenapa tidak dijadikan percontohan menampung sampah dari daerah-daerah aglomerasi,” katanya.


Herman mengatakan volume sampah di Kabupaten Cianjur rata-rata mencapai 240 ton per hari. Ke depan seandainya pembangunan TPST Mekarsari selesai, diperkirakan bisa menampung hingga 500 ton per hari. “Ketika kita bisa menampung sampah dari daerah lain, nanti jadi PAD (pendapatan asli daerah) dari retribusinya,” pungkasnya. BNM/NDI/SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.