Ikatan Cinta Oleh: Dr David Rizar Nugroho, MSI Pemimpin Redaksi Harian Pakar

JAGAT hiburan di tanah air sedang dihebohkan dengan fenomena sinetron ikatan cinta. Sinetron yang tayang tiap malam di RCTI ini berhasil menggapai rating 14. Sebuah prestasi yang luar biasa di saat industri televisi sedang lesu dan mulai kalah bersaing dengan konten konten di sosial media.

Bahkan rating ikatan cinta mengalahkan rating sinetron Cinta Fitri 3 di SCTV beberapa tahun lalu yang merajai industri persinetronan di tanah air.

Yang bikin heboh adalah syuting digelar disaat pandemi. Lokasinya di hotel Beth Kesegaran Theresia, Gunung Geulis, Kabupaten Bogor. Mereka sudah syuting sejak empat bulan yang lalu dan setiap syuting outdoor hingga Desember 2020 selalu penuh dengan penggemar hingga polisi harus membubarkan kerumunan massa tersebut.

Syuting sinetron di tengah pandemi boleh tidak? Itu pertanyaan krusial nya. Bupati Bogor tanggal 25 Januari 2021 menekan surat keputusan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dulu namanya PSBB. SK Bupati nomor 443/41/Kpts/Per-UU/2021 menjelaskan PPKM diperpanjang hingga 8 Februari 2021. Poin H dalam SK Bupati tertulis begini: “Kegiatan di fasilitas umum dan Kegiatan Sosial Budaya Dihentikan Sementara,”. Perdebatan muncul apakah Syuting Sinetron masuk ketegori “Kegiatan Sosial Budaya”? Kepala Seksi Trantib Kecamatan Mega Mendung Iwan Relawan punya tafsir tersendiri.

Kata dia kegiatan panggung seni dan mengundang kerumunan itu yang di maksud kegiatan sosial budaya. Tafsir Iwan kegiatan syuting bukan termasuk kegiatan sosial budaya jadi boleh syuting asal mematuhi prokes. Tadi malam saya diskusi panjang soal penafsiran pasal dalam sebuah produk hukum dengan seorang ahli hukum.

Dia nengatakan dalam ilmu hukum, dikenal cara penafsiran hukum melalui tiga metode. Tiga metode itu adalah penafsiran secara gramatikal, penafsiran secara analitical, dan penafsiran secaea historical.

Gramatikal yakni arti kata/kalimat berdasarkan tata bahasa di mana referensinya biasanya kamus bahasa. Analytical yakni menafsirkan kalimat normatif berdasarkan hasik analisa, artinya menafsirkan kalimat secara utuh menyeluruh, mendeteksi apkah norma tersebur berdiri sendiri ataukah sambung menyambung dengan kalimat norma lainnya.

Historical yakni menafsirkan kata/kalimat/susunan norma tertulis, dengan cara menelusuri sejarah/asbabun nuzul/riwayat, kenapa muncul seperti itu , penafsir biasanya mencari si penyusun diksi kalimat teesebut, dia yang tahu makna/maksud yang sesungguhnya dari penyusunan diksi kalimat tersebut.

Penafsiran yang sempurna, memang idealnya harus memenuhi tiga metode itu agar tidak terjadi pertentangan tafsir.
Namun, jarang sekali para ahli hukum 100% punya penafsiran nya sama, selalu ada yg berbeda pendapat.

Teman saya ini mencoba membuat analisis tentang kasus syuting ikatan cinta. Dia mencoba menganalisis melalui pendekatan historis. Kata dia kenapa SK Bupati Bogor sampai terbit? Kata dia, kita semu sepakat bahwa tujuan PPKM untuk mencegah penularan covid yg semakin masif.

Menurut dia, kita harus satu persepsi, bahwa frasa sosial “budaya” adalah sebangun dengan “seni budaya”. Kegiatan seni budaya salah satu bentuknya adalah syuting sinetron. Kalau merujuk pendapat teman saya ini maka syuting sinetron ikatan cinta masuk kategori huruf H SK Bupati Bogor.

Kalau syuting tetap dilaksanakan maka Yang terjadi adalah pelanggaran SK Bupati Bogor tentang perpanjangan PPKM huruf H.
Tapi itu tafsir teman saya lo yang saya tahu ahli membuat aturan hukum. Bagaimana pendapat saya? Saya setuju dan mendukung kerena argumentasi teman saya ini logis sekali. Kalimat di huruf H SK Bupati Bogor kalimatnya tegas sekali kerena tidak ada frasa kelanjutan: jika ditemukan kerumunan. Bahasa tegas saya segala bentuk kegiatan sosial budaya dilarang untuk sementara waktu hingga 8 Februari 2022! Tafsir “sosial budaya” sudah di uraikan di atas kita tunggu saja tafsir resmi dari Pemkab Bogor, karena yang mengeluarkan SK dari Pemkab Bogor jadi mereka yang berhak menafsirkan.

Realitas yang terjadi syuting dilakukan setiap hari mulai pagi hingga larut malam. Kenapa? Kerena kejar tayang. Syuting pagi hingga malam ditayangkan besok hari, begitu terus siklus nya. Kru ketika di wawancarai membenarkan, tapi ketika di tanya lagi membantah. Siapa yang benar? Gampang mengecek nya. Lihat saja instastory kru dan artis.

Amanda Manopo bikin instastory instagram Selasa malam pukul 23.30 WIB sedang syuting. Mau bantah tidak ada syuting larut malam? Tadi malanm di RCTI ada scene malam hari dengan busana yang sama yang dikenakan Amanda Manopo. Nonton saja sinetron nya banyak scene scene malam hari. Mudah kan membuktikannya? Tadi malam saat di datangi Satgas Covid sepi tidak ada syuting.

Tapi ada story instagram salah satu kru di Raja FO Cipanas. Kalau tadi malam tidak syuting berarti malam ini ikatan cinta libur alias tidak tayang. Mari kita buktikan nanti malam adakah scene malam hari? Kalau ada berarti setelah satgas pulang mereka lanjut syuting? Hanya Tuhan yang tidak bisa dibohongi dan hati nurani.

Apakah syuting sinetron hingga larut malam atau dini hari melanggar Prokes atau PPKM? Satgas covid yang harus menjawab. Saya termasuk sering menonton sinetron ini. Dari awal tayang hingga episode tadi malam saat adegan pemain sinetron tidak menggunakan masker. Saya nonton tayangan OVJ, Dasyat dan Indonesia Idol semua pakai masker.

Saat menyanyi saja mereka membuka masker. Apakah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membolehkan adegan dalam sinetron tanpa masker? Ini pertanyaan yang harus di jawab oleh KPI agar tidak ada diskriminasi.
Pada akhirnya saya mau bilang keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Saya percaya regulasi yang dikeluarkan negara untuk melindungi rakyat nya (*)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.