Gawat, BOR Sudah Nyaris Habis, Pemkot Bogor Harus Segera Lakukan Hal ini

Beginilah kondisi pasien yang berada di UGD RSUD Kota Bogor. (Ist)

BOGOR – Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kota Bogor terus meningkat. Bahkan setiap hari rata-rata kasus positif mencapai angka 400 hingga 500 orang. Hal itu beringas kepada situasi ‘Kota Hujan’ semakin genting dan gawat. Peningkatan kasus positif berpengaruh kepada ketersediaan tempat tidur, tenaga kesehatan (Nakes) dan kebutuhan stok oksigen di seluruh rumah sakit yang ada di Kota Bogor.

Fakta yang terjadi saat ini, ribuan warga Kota Bogor yang terpapar virus Covid-19 akhirnya melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) di rumahnya masing-masing. Imbasnya, saat ini Bed Occupancy Ratio (BOR) sudah menyentuh 82 persen atau 909 tempat tidur telah terisi dari total 1.109 pada Selasa (6/7/2021).

Berdasarkan data yang diterima dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor per 1 Juli 2021, jumlahnya 4.446 orang terpapar, yang tersebar di 6 kecamatan se-Kota Bogor. Menyikapi hal itu, Anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PPP, Akhmad Saeful Bakhri (ASB) mendesak agar Wali Kota Bima Arya segera mengeluarkan kebijakan untuk menambah kapasitas tempat tidur RS terutama untuk ruang rawat inap pasien covid hingga 40 persen atau lebih.

“Termasuk di RSUD, harus dinaikan sampai 63,5 persen. Sebab, banyak warga yang isoman tidak tertolong,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (7/7/2021).

Namun, sambung dia, apabila Pemkot Bogor ingin menaikan kapasitas tempat tidur, harus dibarengi dengan penambahan jumlah tenaga kesehatan (nakes). Salah satunya dengan bekerjasama dan melibatkan mahasiswa jurusan keperawatan atau sekolah kesehatan. “Nantinya mereka (mahasiswa) yang terlibat diberi apresiasi, dan penambahan nilai akademis,” katanya.

Sebab, kata dia, apabila situasi ini biarkan, maka fasilitas kesehatan dapat colapse. Akibatnya, angka kematian akan semakin tinggi. “Begitupun soal pasokan oksigen. Pemerintah harus bekerjasama dengan perusahaan pembuat oksigen dan pemerintah pusat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Kota Bogor, dr Ilham Chaidir mengatakan bahwa saat ini satu perawat telah menangani 17 orang pasien. Seharusnya, satu perawat menangani enam pasien. Setiap hari terus berdatangan pasien positif ke UGD, walaupun sudah tidak mampu lagi menampung, tetapi tetap ditangani.

“Dapat dibayangkan bagaimana lelahnya nakes yang ada. Hampir 400 perawat kita libatkan yang terbagi 3 shift, pakai APD, dan ada pengaturan interval, agar tak sakit dan kelelahan. Rekruitmen nakes pun sedang berjalan,” jelasnya.

Ilham juga mengatakan bahwa ketersediaan oksigen di ambang kritis. Sebab, kapasitas 10 ton tangki oksigen yang dimiliki RSUD harus diisi dalam dua hari sekali. “Tabung di IGD dan ruang non Blok 3 per hari bisa 150 tabung. Sedangkan pasokannya jauh berkurang,” ungkapnya.

Tetapi, kata dia, saat ini relawan-relawan yang menyumbangkan oksigen mulai bermunculan. “Ya, alhamdullilah. Mudah-mudahan akan semakin banyak,” katanya.

Sementara berdasarkan data dari Dinkes Kota Bogor pada Rabu (7/7/2021), terjadi penambahan kasus 497, sehingga total kasus sejak awal pandemi mencapai 23.582, dengan rincian yang masih sakit 6.072. Sedangkan untuk pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 17.219, dan jumlah korban meninggal dunia mencapai 291 orang. RIF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.