Equality Before The Law Oleh: Dr David Rizar Nugroho, MSi Pemimpin Redaksi Harian PAKAR

KASUS kerumunan masyarakat yang terjadi saat syuting sinetron Ikatan Cinta di Hotel
Berth Kesegeran Theresia Gunung Geulis, Megamendung, Kabupaten Bogor menjadi isu nasional. Hari hari belakangan ini media massa menyoroti masalah tersebut. Syuting sudah berlangsung selama empat bulan di masa pandemi Covid -19.

Kalau kita lihat sosial media, kerumunan terjadi di depan pintu gerbang Hotel Beth Kesegeran Theresia. Massa menyemut di sana terutama saat akhir pekan Sabtu Minggu. Mereka datang bukan hanya dari masyarakat sekitar tapi wilayah lain.

Mereka penasaran dengan dua pemeran utama yang lagi viral yakni Arya Saloka yang berperan sebagai Aldebaran dan Amanda Manopo yang berperan sebagai Andin. Namun kasus kerumunan penonton ini baru menjadi pemberitaan medis massa di pekan kedua Januari 2021.

Kita lihat video yang beredar di sosial media dan media massa saat polisi membubarkan kerumunan penonton dengan megaphone. Sebenarnya bukan hanya soal kerumunan, jam syuting sering berakhir hingga larut malam.

Saya merasa mereka seolah lupa ini masa pandemi yang semua dibatasi termasuk pembatasan waktu aktifitas, apalagi saat ini masuk PPKM seperti PSBB pertama kali diberlakukan. Mereka bilang melaksanakan tes antigen seminggu sekali setiap hari Senin, padahal artisnya nyaris tiap hari bolak balik Jakarta Bogor, sesuai saran wakil rakyat di DPR harusnya setiap hari di tes antigen.

Bupati Bogor sendiri sudah bertindak cukup tegas jika ada kerumunan massa lagi akan dibubarkan kegiatan syuting nya.
Saya ingin menyoroti dua hal dalam tulisan ini. Pertama fakta soal kerumunan yang sudah terjadi dan kedua terkait perizinan. Fakta kerumunan saya coba bandingkan dengan kasus Habib Rizieq yang menyelenggarakan acara Maulid Nabi Muhammad dan pernikahan putrinya.

Panitia maulid mengaku sudah mengajukan izin ke pemerintah daerah dan tidak mengundang umat untuk datang. Umat datang sendiri karena Habib Rizieq jadi magnet. Yang terjadi kemudian terjadi kerumunan massa dan Habib Rizieq jadi tersangka kini di tahan dan sejumlah panitia juga jadi tersangka namun tidak di tahan. Saya bukan orang hukum yang mengerti pasal pasal pidana apa yang disangkakan.

Gara-gara acara maulid dan nikahkan terjadi kerumunan dan sudah ada sejumlah orang yang terjadi tersangka dan ada yang ditahan. Kasus kerumunan di Pesantren Habib Rizieq yang juga terjadi di Megamendung, Kabupaten Bogor sudah ada tersangkanya.

Mari kita bandingkan kasus syuting sinetron Ikatan Cinta. Gara gara ada kegiatan syuting, masyarakat datang berbondong bondong nonton.

Dalam konstruksi ini kasus Habib Rizieq dan Kasus Syuting ada kesamaan yakni jadi penyebab datangnya kerumunan. Kalau tidak ada acara Maulid dan Nikahan anak Habib Rizieq tidak mungkin ada kerumunan. Kalau tidak ada syuting sinetron tidak mungkin ada kerumunan.

Dalam hal ini hukum sebab akibat terbukti. Kalau kita cek sosial media kerumunan gara gara syuting sinetron bukan sekali terjadi, terjadi berulang di bulan November dan Desember 2020.

Kasus Habib Rizieq sekali terjadi di malam itu saat maulid dan nikahan. Yang berbeds kasus Maulid dan Nikahan diusut polisi dan sudah ada tersangkanya dan ada yang ditahan, termasuk kasus di pesantren Habib Rizieq di Megamendung.

Kasus syuting ikatan cinta bagaimana? Kita harus berprasangka baik karena polisi pasti akan mengusut dugaan pidana ini. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 menegaskan semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum (equality before the law).

Kesamaan di hadapan hukum berarti setiap warga negara harus diperlakukan adil oleh aparat penegak hukum. Apakah polisi menunggu laporan masyarakat? Bisa jadi karena tanpa laporan masyarakat biasanya polisi tidak dapat mengusut sutu kasus.

Kita lihat kasus artis Raffi Ahmad yang datang ke acara ulang tahun temannya yang hanya dihadiri 18 orang. Karena viral, kasus itu di usut polisi bahkan polisi telah menggelar gelar perkara.

Di Madiun, polisi mengusut kasus selegram yang mengadakan acara yang menyebabkan kerumunan dan viral di sosial media.

Selegram itu dipanggil polisi dan kasusnya di sidik. Saya yakin polisi akan memeriksa penanggung jawab syuting Ikatan Cinta, mungkin kru dan artis artisnya untuk mencari fakta hukum ada tidaknya pelanggaran pidana PPKM yang disebabkan kegiatan syuting.

Polisi nanti akan menggelar gelar perkara untuk menentukan apakah ada unsur pidana dalam kasus kerumunan yang diakibatkan syuting Ikatan Cinta.

Setidaknya itu yang saya pelajari dari kasus Habib Rizieq, artis Raffi Ahmad dan Selegram di Madiun. Kita tunggu aja aksi konkrit aparat yang berwajib untuk mengatasi kasus kerumunan akibat syuting sinetron Ikatan Cinta.

Hal kedua yang ingin saya bahassoal perizinan. Saya dapat cerita dari seorang kawan. Jika di kampung akan digelar nikahan, maka yang punya hajat wajib lapor ke Satgas Covid Kecamatan.

Satgas covid akan terjun ke lapangan untuk mengecek lokasi pernikahan dan bagaimana mitigasi protokol kesehatannya. Kemudian, satgas akan mengeluarkan rekomdasi dengan item item prokes yang harus dipatuhi.

Itu dari cerita kawan saya yang belum konfirmasi ke satgas covid kecamatan. Nah bagaimana dengan kegiatan syuting ikatan cinta perlu lapor ke satgas? Saya berpendapat sangat perlu karena potensi besar menghasilkan kerumunan.

Penangung jawab syuting menurut hemat saya perlu bersurat ke Satgas Covid Kabupaten. Kenapa ke kabupaten? Ini kan produk untuk disiarkan secara nasional, artis artis yang jadi pemerannya publik figur yang mobilitasnya dan interaksi nya tinggi.

Jadi, kelasnya tentu bukan kecamatan. Pengelola syuting bersurat untuk menyampaikan proposal mitigasi syuting termasuk soal antisipasi kerumunan. Setelah proposal diterima, Satgas Covid Kabupaten pasti akan melakukan kajian, survei lapangan dan mengeluarkan rekomendasi dengan item item prokes yang wajib dijalankan.

Apakah pengelola syuting sudah mengirimkan proposal mitigasi syuting ke Satgas Covid? Ah saya tidak mau berprasangka buruk. Logikanya kalau sudah ada rekomendasi dengan item item prokes yang wajib dijalankan tidak mungkin ada kerumunan yang dibubarkan polisi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.