Dua Bulan Tak Ada Kepastian, Kuasa Hukum Wartawan Korban Kecelakaan Somasi Kodjari

Dodi Herman Fartodi (kiri), Kuasa hukum Hendi Novian, seorang pewarta foto yang ada di bawah naungan organisasi PFI, melayangkan somasi terhadap Kodjari. (Dok.PFI)

CIBINONG – Kuasa hukum Hendi Novian Lesmana, seorang pewarta foto atau wartawan salah satu media di Bogor yang menjadi lorban kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Pemda, Sukaraja, Kabupaten Bogor, melayangkan somasi kepada pihak Koperasi Duta Jasa Angkutan Mandiri (Kodjari).

Bukan tanpa alasan, korban yang dirugikan karena sampai kehilangan jari tangannya itu sudah dua bulan tidak mendapatkan itikad baik dari Kodjari, pihak perusahaan yang menaungi
operasional angkot 32 jurusan Cibinong – Bubulak atau kendaraan yang menabrak Hendi pada 8 April 2024.

Kuasa hukum korban yang juga tim legal Organisasi Profesi konstituen Dewan Pers, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor Dodi Herman Fartodi menegaskan bahwa penyelesaian peristiwa kecelakaan yang menimpa Hendi terlalu berlarut-larut.

Sehingga, sangat disayangkan Kodjari sebagai pihak yang menaungi angkot tersebut tidak ada itikad baik. Apalagi Hendi, sebagai korban harus mengalami cacat permanen.

“Hari ini kita somasi perusahaan atau badan hukum yang menaungi operasional angkot itu, seperti tertulis dalam STNK kendaraannya atas nama Kodjari. Kami akan tempuh jalur hukum sesuai undang-undang yang berlaku adapun langkah hukum yang dilakukan didasari UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LAJ) dimana didalam pasal 234 ayat (1) tertuang tentang tanggung jawab perusahaan angkutan terhadap kecelakaan akibat kelalaian pengemudi angkutan,” tegas Dodi, Kamis (6/6/2024).

Menurutnya, kecelakaan tersebut tidak bisa dianggap kecelakaan biasa. Sebab, korban harus kehilangan jari telunjuk yang jadi tumpuan bekerja dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya.

“Ini tak main-main, kerugian yang korban alami cukup serius, kami akan tuntut semua pihak yang bertanggungjawab, sudah cukup waktu selama hampir dua bulan, namun tak ada itikad baik, kita akan lanjutkan dengan gugatan hukum di pengadilan dengan dasar pasal 1366 KUHPerd tentang perbuatan melanggar hukum, juga dimungkinkan kita masuk melalui kejahatan korporasi hal itu karena terdapat kerugian materiil dan immateriil dari klien kami,” tegasnya.

Selain itu, Dodi pun menyayangkan lambannya pihak kepolisian dalam mengungkap kasus kecelakaan tersebut. Seperti diketahui, sopir angkot 32, Andi Yatma melarikan diri usai menerima perawatan di Rumah Sakit swasta hingga kini belum ditemukan keberadaannya pasca kecelakaan lalu.

“Kami ini juga merasa aneh, sopir angkot sampai saat ini masih belum tertangkap. Ini sebenarnya dicari atau pura pura dicari, masa iya sampai sekarang belum tertangkap padahal petunjuknya cukup jelas waktu si supir ini dirawat di rumah sakit, apalagi kita dapat informasi dari Rumah Sakit, jika sebenarnya pelaku ini pulang karena sudah ada yang membayar biaya RS harusnya lebih mudah untuk kepolisian koordinasi dengan Rumah Sakit agar membuat terang perkara ini,” jelas Dodi. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.