DP2KBP3A Kabupaten Cianjur Catat Angka 77,08 % PUS Sebagai Akseptor KB Aktif

PHOTO : Beginilah Kepala DP2KBP3A Kabupaten Cianjur, Heri Suparjo saat menjelaskan capaian akseptor keluarga berencana (KB) aktif dimasa pandemi Covid-19. Esya | Pakar

CIANJUR—Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Cianjur, mencatat jumlah keikutsertaan pasangan usia subur (PUS) sebagai akseptor keluarga berencana (KB) aktif diwilayah Kabupaten Cianjur, saat ini sudah mencapai kisaran 77,08%. Meskipun begitu, pihaknyapun masih terus menggenjot agar PUS yang belum menjadi akseptor bisa segera melaksanakannya.


Kepala DP2KBP3A Kabupaten Cianjur, Heri Supardjo mengatakan selama ini jumlah angka PUS tersebut, di Kabupaten Cianjur, berkisar sektar 163 ribu pasangan. Sehingga masih terdapat sekitar 88 ribuan PUS yang belum menentukan kebutuhan pilihan sebagai akseptor aktif. “Memang angka PUS tersebut, ada sekitar 22,92% yang dikategorikan unmet need atau belum menentukan metode KB yang dibutuhkan. Jumlahnya memang banyak hampir sekitar 88 ribuan,” terangnya.


Namun, lanjut Heri, masih ada PUS yang belum mementukan kebutuhan pilihan tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk itu, tugas dan peran dari pada penyuluh KB akan lebih dimaksimalkan agar kedepan bisa mencapai target capaian akseptor KB. Pasalnya, akseptor aktif di Kabupaten Cianjur cukup bervariatif menggunakan alat kontrasepsi atau metode kontrasepsi jangka panjang. Misalnya pasektomi, tubektomi, IUD, maupun implan.


“Mudah-mudahan bisa secepatnya kami dapat menuntaskan angka PUS yang dikategorikan unmet need ini. Ada juga yang durasinya jangka pendek, misalnya untuk satu bulan atau tiga bulan seperti suntikan. Ada yang lebih pendek lagi seperti kondom,” ungkapnya.


Kategori PUS, kata Heri, ada dikisaran pasangan usia 15-45 tahun dengan indikator untuk kalangan perempuan. Kalau untuk kalangan lelaki, di atas usia 45 tahun masih bisa dikategorikan produktif. Sebab KB, merupakan kebijakan program strategis nasional dalam rangka pengendalian penduduk. Di antaranya strateginya yakni meningkatkan dan memantapkan akseptor KB, meningkatkan potensi desa untuk KB, dan mendorong terbentuknya Kampung KB.


“Kalau perempuan kan dilihat dari masa kesuburan. Tapi apabila diatas usia 45 tahun rata-rata perempuan itu sudah menopause. Memang ada juga sih perempuan yang usianya diatas 45 tahun belum menopause. Jika tiga strategi ini sudah terealisasi, maka program Keluarga Berencana itu sudah bisa mandiri karena sudah bisa dilaksanakan masyarakat bawah,” sebutnya.


Salah satu tempat di Kabupaten Cianjur dijadikan sebagai Kampung KB itu rujukan dari tingkat nasional. Salah satu lokasinya itu berada diwilayah Kecamatan Sukanagara. ” Itu namanya Kampung KB Pelangi. Di sana semua program berjalan dengan lancar,” imbuhnya. SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.