Ditinggal Danjen, Program Pengurangan Angkot di Kota Bogor Jadi ‘Melehoy’

Rencana pengurangan angkot di Kota Bogor terancam gagal dilakukan. IST

BOGOR – Target Dishub Kota Bogor saat dipimpin Eko Prabowo (Danjen) adalah melakukan pengurangan angkutan kota (angkot) di tengah pusat Kota Bogor.
Hal tersebut, merupakan program unggulan dari pasangan wali kota Bima Arya-Dedie A Rachim juga.

Namun, saat Danjen dimutasi beberapa waktu lalu. Maka, penggantinya sementara yakni Marse H Saputra mengaku, jika program tersebut ternyata tak berjalan mulus.
Bahkan, pengurangan angkot ini terancam batal terlaksana di akhir tahun 2023 ini.
Jika gagal, pada tahun ini angkot masih banyak dipusat kota yang juga menjadi salah satu sebab kemacetan sejauh ini.

Penyebab gagalnya pengurangan angkot di pusat Kota Bogor tak terlaksana pada tahun ini, dijelaskan Marse, disebabkan adanya tarik ulur soal penambahan koridor Biskita Transpakuan. Penambahan koridor yang diketahui koridor 3 dan 4 ini molor bahkan bisa terancam batal dilaksanakan. Tapi, masih ujar dia, Dishub terus menjalin komunikasi dengan pihak BPTJ Kemenhub terkait hal tersebut.

“Sejauh ini kan dari 6 koridor yang di MoU kan sudah terealisasi 4 koridor. Masih ada PR dua koridor. Kalau bicara kapan, kami masih akan menunggu terus kebijakan dari BPTJ,” tegas Marse kepada wartawan, Selasa (28/11/2023).
Dishub Kota Bogor mengklaim, sudah melayangkan surat kepada BPTJ terkait pengajuan koridor ini. Surat pengajuan penambahan koridor ini sudah dilayangkan sejak Agustus lalu.

Diketahui, pengurangan angkot memang kerap bersinggungan dengan penambahan koridor Bis Kita serta unitnya.
Koridor Bis Kita ini seperti diketahui nanti akan dilintasi oleh unit Biskita. Pada tahun ini, jika jadi terlaksana, dua koridor ini bisa dilintasi oleh 26 unit Biskita. 26 unit Biskita ini diketahui berasal dari 78 angkot yang sudah dikonversi menggunakan pola 3:1.

Konversi angkot ini memang kerap dijadikan upaya Pemkot Bogor untuk mengurangi angkot di pusat kota. Hal itu sudah dilakukan di empat koridor Biskita yang disediakan untuk menampung 49 unit Biskita yang juga merupakan hasil konversi 3:1.


Jumlah tersebut masih sangat timpang jika dilihat dari total angkot keseluruhan di Kota Bogor yang berjumlah hampir 1.020 angkot dari total 13 trayek yang melintas di Kota Bogor.
Jika jadi terlaksana penambahan koridor hanya mampu mengurangi 78 angkot saja dan masih menyisakan 942 angkot.


Meski begitu, upaya pengurangan angkot terus dilakukan di Kota Bogor. Marse menambahkan, upaya ini dilakukan dengan upaya konversi 3:1, reduksi, sampai pindah layanan.


Lalu, jalur-jalur feeder di pinggiran pusat Kota Bogor, akan dihidupkan sebagai penunjang transportasi angkot.


“Konversi ini bagian dari upaya. Lalu tadi ada reduksi dua jadi satu. Kemudian ada PL pindah layanan. Jadi, selama ini yang melayani di jalur SSA kita alihkan ke jalur feeder. Jalur feeder ini trayek yang masih kurang angkotnya,” ujar Marse.


Lalu, sambung Marse, Dishub pun akan membatasi jalur-jalur angkutan dari wilayah tetangga agar tak masuk ke pusat Kota Bogor.
Selain itu, upaya lainnya yakni Dishub akan bertindak untuk penindakan angkot-angkot di ruas jalan Kota Bogor.


Dalam upaya mengurangi angkot ini, penindakan ini didasari oleh Peraturan Daerah (Perda) Transportasi.


“Terbaru adalah dengan adanya Perda Transportasi No 8 Tahun 2023. Ini juga kita harus sesuaikan karena meyatakan umur teknis angkot itu maksimal 20 tahun dengan penekannya di laik pakainya,” tandasnya.=ROY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.