Dinkes: Kasus Stunting di Kabupaten Bogor Tahun Ini Mencapai 9,8 Persen

Ilustrasi stunting. IST

CIBINONG – Kasus stunting di Kabupaten Bogor seakan tidak pernah hilang dari waktu ke waktu. Padahal sejumlah penanganan masalah gizi buruk ini terus dilakukan pemerintah, baik pusat, provinsi maupun daerah.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Agus Fauzi mengatakan, untuk menekan angka stunting pihaknya terus bekerjasama dengan semua pihak, misalkan dengan rakor-rakor.

“Kegiatan stunting terus kami lakukan dengan rakor-rakor. Kita juga ada kopergensi stunting, bahkan kita punya lokus desa-desa stunting,” ujar Agus Fauzi.

Selain itu, intervensi ke desa-desa stunting juga terus dilakukan dengan melibatkan hampir semua insan kesehatan.

“Dalam intervensi ke desa-desa stunting, kita juga akan meminta bantuan, tidak hanya dinkes dan Puskesmas tapi ada organisasi profesi dan juga rumah sakit pada saat penanganannya gizi buruk,” ucapnya.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pada tahun 2022 ini angka stunting di Bumi Tegar Beriman mencapai 9,8 persen.

“Tapi kalau kita melihat apa yang disyaratkan Pemerintah pusat angka stunting tidak boleh di angka 20 persen kita masih jauh, tapi ia ingin angka stunting kita tetap nol persen,” bebernya.

Namun begitu, ia menyadari kasus stunting ini pasti terus ada. Hanya saja bagaimana menangani kasus ini ketika ada kasus baru.

“Jika menemukan kasus gizi buruk penanganannya harus 100 persen,” ungkapnya.

Saat disinggung soal data stunting yang berbeda-beda baik data dari Pemerintah pusat maupun provinsi, Agus Fauzi mengakui soal data masih tetap terus disinkronkan.

Namun data Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor itu sesuai fakta yang ditemukan petugas-petugas di lapangan.

“Data yang kita punya soal stunting itu real fakta temuan petugas di lapangan, bukan rekayasa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bogor terus fokus tangani penurunan angka stunting dengan melakukan diseminasi audit stunting tingkat Kabupaten Bogor tahun 2022.

Diseminasi ini guna mempercepat penurunan angka stunting melalui Rencana Aksi Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN-PASTI), dengan pendekatan keluarga beresiko stunting.

Bahkan beberapa waktu lalu, Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Nurhayati menyebutkan, diseminasi audit stunting tingkat Kabupaten Bogor bertujuan untuk mengidentifikasi risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran, mengetahui penyebab risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran sebagai upaya pencegahan dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa.

Kemudian menganalisis faktor risiko terjadinya stunting pada baduta/balita stunting sebagai upaya pencegahan, penanganan kasus dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa, lalu memberikan rekomendasi penanganan kasus dan perbaikan tata laksana kasus serta upaya pencegahan yang harus dilakukan.

“Audit kasus stunting telah kami laksanakan dalam bentuk pertemuan sebanyak dua kali dalam satu tahun oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Bogor. Selanjutnya kita lakukan identifikasi jumlah kasus penyebab, tata kelola yang sedang diterapkan, tingkat efektivitas serta kendala yang terjadi, merumuskan solusi terhadap permasalahan, evaluasi hasil tindaklanjut yang bertujuan memberikan rekomendasi bagi tindakan penanganan yang tepat pada kasus stunting,” tandasnya. =YUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.