Dinas Arsip dan Perpustakaan Sebut Pengelolaan Kearsipan Desa Masih Bermasalah

Ilustrasi Dinas Arsip Dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor. IST

CIBINONG – Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor menilai pengelolaan kearsipan di desa masih menjadi masalah atau masih acak-acakan tidak tertata.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor, Luthfie Syam mengatakan, kearsipan di desa khususnya buku C masih jadi perhatian karena kurang tertata dengan baik.

Untuk itu, targetnya melakukan pembinaan soal kearsipan dan juga melakukan alih media buku C desa.

“Karena banyak terjadi pada saat Pilkades dimana yang namanya incumbent kalah, biasanya dua hal yang jadi masalah. Kantor desanya digembok, buku C nya dibawa karena buku C itu punya nilai salinannya yang membuat AJB itu pasti perlu,” ujar Luthfi Syam kepada wartawan, Selasa (28/6/2022).

Permasalahan kearsipan di desa biasanya mulai dari penomoran arsip, tata naskah surat, kode klasifikasinya, dan juga surat urusan apa itu masih tidak ditata dengan baik.

Maka, sambung dia, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor berkewajiban merapikan keterkaitan pengelolaan arsip.

“Harusnya kan surat urusan apa ke pegawaian kah, pemerintahan kah, urusan perekonomian kah, itu harus tercatat rapi,” bebernya

Mantan Kadisdik Kabupaten Bogor ini menilai pemerintah kecamatan jauh lebih baik soal kearsipan. Sebab, di kecamatan biasanya ada orang khusus yang ditempatkan mengurusi arsip.

“Dan kami selalu memberikan reward bagi kecamatan yang secara pengelolaan arsip baik, dan kecamatan wajib melaporkan kearsipan setiap satu bulan sekali,” ungkapnya.

Ia berharap, pemerintah desa ke depan akan lebih baik dengan melakukan pembinaan seminggu tiga kali. “Kita baru tiga tahun ini menyentuh desa soal kearsipan,” terangnya.

la juga mengingatkan, ketika bekerja di pemerintahan tentunya yang dihasilkan adalah arsip.

“Jadi semua yang dihasilkan dari Pemda bentuknya arsip, maka jika kearsipan nya tidak beres, ya akan rusak,” ucapnya.

Untuk itu, harus ada perubahan, karena arsip ini tidak berduit dan masih banyak menganggap arsip ini barang bekas tidak menghasilkan uang.

“Jadi dalam pembinaan ini selain cara menata arsip, kita juga melakukan perubahan agar berubah,” pungkasnya. =YUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.