Desa Tugu Selatan Klaim Angka Stunting Turun, Faktanya?

CISARUA – Angka penderita stunting di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, di klaim menurun secara signifikan. Penurunan angka stunting tidak lepas dari peran serta masyarakat dan berbagai elemen masyarakat yang turut serta membantu program pemerintah desa. Meskipun banyak perusahaan yang beroperasi di Desa Tugu Selatan, akan tetapi tidak memberikan kontribusi yang efektif

Kepala Desa Tugu Selatan M. Eko Windian mengatakan, bahwa angka stunting di desa ini telah menunjukkan penurunan yang signifikan. Penurunan ini merupakan indikasi positif bahwa berbagai upaya yang dilakukan mulai membuahkan hasil yang diharapkan.

“Salah satu faktor utama yang turut mendukung keberhasilan ini adalah upaya kolaboratif antara berbagai pihak, baik pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan berbagai organisasi masyarakat yang selalu bekerja sama untuk menyusun dan melaksanakan program-program yang efektif dalam menanggulangi stunting,” ungkapnya, Kamis (11/07).

Menurutnya, salah satu upaya dengan pengadaan posyandu yang rutin dan pelatihan bagi para kader kesehatan desa, juga turut berperan penting dalam menyediakan layanan kesehatan dasar yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Meskipun penurunan angka stunting ini patut diapresiasi. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai angka yang lebih rendah lagi,” paparnya.

Ia mengatakan, tantangan-tantangan yang dihadapi saat ini meliputi peningkatan akses terhadap layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, serta mengatasi kemiskinan yang masih menjadi permasalahan utama di desa ini. “Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih intensif dan berkelanjutan untuk memastikan penurunan angka stunting dapat terus berlangsung,” jelasnya.

Kedepan pihaknya akan terus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Desa Tugu Selatan, mengingat memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung upaya pencegahan stunting. “Kita melihat realitas menunjukkan bahwa banyak dari perusahaan ini hanya mampu memberikan gaji sekitar 2 juta rupiah perbulan. Angka ini sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak di desa tersebut. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih komprehensif dan kontribusi yang lebih berarti dari perusahaan-perusahaan tersebut,” tuntasnya. FIR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.